Seumpama Mojok.co adalah ajaran Islam, maka saya tak ragu untuk mendaku diri saya sebagai assabiqunal awwalun, golongan pertama, golongan awal. Tentu ini tak berlebihan, dan rasanya saya memang sahih untuk mendakunya, sebab saya memang salah satu dari jajaran penulis pertama situs web yang tiada mengenal belas kasih ini. Bersama Beni Satryo, Arman Dhani, Gita Wiryawan, Puthut EA, Zuhana Zuhro, Rusdi Mathari, Nuran Wibisono, Iqbal Aji Daryono, Abdullah Alawi, dan Mahfud Ikhwan, saya turut menjadi gerombolan yang mbabat alas membuka jalur pembaca dan memanaskan lantai dansa pemirsa.

Dalam beberapa kesempatan, kepada beberapa orang, saya bahkan pernah bilang, kalau saya ini lebih Mojok ketimbang Mojok itu sendiri. Lha kenyataannya memang begitu je, tulisan pertama saya di Mojok terbit tanggal 27 Agustus 2014, padahal Mojok baru resmi dilaunching tanggal 28 Agustus, alias sehari setelah tulisan saya tayang.

Pertemuan saya dengan Mojok berawal dengan skema yang sangat biasa. Saya kenal kepala suku – saya suka menulis di blog – kepala suku dan kawan-kawan bikin Mojok – lalu saya diajak untuk menulis di situ.

Saya masih ingat betul kala itu, di pagi hari tanggal 20 Agustus 2014, tepat saat acara Dahsyat di RCTI sedang iklan, saya mendapatkan pesan di email saya.

Teman-teman yang baik,

Bersama surat cinta ini, saya lampirkan seruan untuk memulai revolusi. Dan teman-teman adalah orang-orang terpilih untuk terlibat dalam revolusi tersebut. Besar harapan kami di Mojok.Co agar teman-teman sekalian bersedia ikut serta dalam gerilya, penguatan kantung-kantung perjuangan, menuju serangan besar pada tanggal 28 Agustus 2014 nanti. #Halah Intinya begini. Kami sedang menyiapkan situsweb hiburan yang akan diluncurkan tanggal 28 ini.

Situsweb ini dipersiapkan untuk jangka panjang. Kami meminta teman-teman sekalian menjadi bagian dari rencana ini, menjadi penulis reguler setidaknya dalam tiga tahun ke depan. Nah, untuk persiapan peluncuran, kami minta teman-teman menulis 2 artikel, minimal 400 kata, deadline-nya tanggal 27. Jadi masih ada waktu seminggu.

Demikian surat cinta ini saya buat, keterangan teknis lainnya ada di dalam lampiran. Jika ada hal-hal lain yang masih harus dibicarakan, saya terbuka untuk dihubungi kapan saja.

Salam.

Pesan yang ndembik dan sangat tidak estetis itu dikirim oleh Arlian Buana, Pemred Mojok.co, saat itu. Pesan yang kemudian menjadi pintu awal saya sebagai seorang penulis Mojok.

Seminggu setelah mendapatkan pesan tersebut, tepatnya tanggal 26 Agustus, saya mengirimkan tulisan pertama saya yang berjudul ‘Pledoi Truk Boks dan Sandal Joger sebagai Jomblo Abadi’ yang kemudian naik tayang sehari kemudian.

Tak berselang lama, kembali muncul pesan di email saya: “Terima kasih, Gus. Honorarium sudah kami kirimkan”

Saya terperanjat, kaget mak jegagik, dan kemudian langsung mengecek akun rekening saya. Dan ternyata benar, ada kiriman sebesar 250 ribu.

BACA JUGA:  Tips Ciamik Menulis Cerpen dan Puisi

Tentu saya girang bukan kepalang, sebab saya mengira, tulisan di Mojok.co ini cuma sekadar publikasi kolektif dan buat senang-senang thok, lha kok ternyata ada honorariumnya.

Semenjak saat itu, saya kemudian mulai rutin menulis untuk Mojok. Hingga akhir tahun 2015, total saya sudah menulis sebanyak 20 tulisan, itu artinya, saya sudah mendapatkan honor sebanyak lima juta rupiah, jumlah yang setara dengan 7 kali angsuran kredit Honda Beat ESP untuk kredit dua setengah tahun, atau setara dengan harga 5.000 tusuk permen lolipop Milkita, yang mana setiap tiga tusuknya setara dengan kalsium satu gelas susu.

Semakin hari, Mojok semakin besar. Ia tumbuh menjadi brand yang kuat. Ekspansi bisnis pun kemudian mulai dilakukan. Yang tadinya hanya situs web, kemudian berkembang ke lini-lini bisnis lain. Ada Mojok Store yang bergerak di bidang merchandise, ada Buku Mojok yang bergerak di bidang penerbitan, bahkan ada Angkringan Mojok yang bergerak di bidang kuliner dan per-badog-an. Hal yang selain bikin takjub dan bangga, namun juga bikin saya khawatir, khawatir kalau-kalau nanti Mojok jadi kemaruk dan bikin terlalu banyak lini bisnis baru dengan branding Mojok.

Kekhawatiran yang menurut saya beralasan, sebab Kepala Suku pernah berencana mau mencoba membikin produk Pomade Mojok. Saya takut jika ini benar-benar dilakukan, ia akan merembet ke produk yang lain, semisal garam dapur beriodium cap Mojok, speaker aktif Mojok, tuding iqro al Mojok, atau shampo Mojok, misalnya.

Tentu saya tak pernah bisa membayangkan dialog begini rupa suatu saat terdengar di televisi: “Wah, rambutnya lembut banget, mbak, rajin ke salon ya?” yang kemudian dijawab “Ah, enggak kok, cuma pakai Mojok” sambil membelai dan mengibas-ngibaskan rambutnya dengan kibasan yang paling takabur dan melenakan. Aduuuh, betapa mengerikannya.

Beruntung hal tersebut urung terjadi.

Dalam perkembangannya, seperti layaknya band, Mojok juga mengalami tambal-sulam personel. Tahun 2016, menjadi awal yang baru bagi perjalanan saya di Mojok. Di awal tahun 2016, Saya masuk sebagai redaktur di Mojok. Saat itu, Pemred Mojok, Arlian Buana pindah ke Tirto, jabatan Pemred kemudian diisi oleh Eddward S Kennedy alias Panjul, Nah, jabatan redaktur yang kosong itulah yang kemudian saya isi (Belakangan, Panjul menyusul pindah ke Jakarta, ia sekarang bekerja di Kumparan, posisi lowong panjul kemudian diisi oleh Prima)

Menjadi redaktur adalah pengalaman yang baru bagi saya. Terlebih di Mojok, saya jadi lebih mengenal bagaimana dapur pacunya, bagaimana mekanisme kerjanya, dan bagaimana menjaga alurnya. Jika saat masih menjadi penulis Mojok tugas saya hanya menulis dan mengirimkan. Maka setelah jadi redaktur, tugas saya adalah memilah naskah yang bagus yang masuk ke email redaksi, menyuntingnya, dan sesekali menulis jika tidak ada naskah yang bagus. Nah, kalau sama sekali tidak ada naskah bagus dan ditambah tidak sedang dalam kondisi yang baik untuk menulis, maka yang harus dilakukan adalah meminta para penulis untuk menulis di Mojok. Ini salah satu tugas yang kadang sangat menyebalkan. Salah satu yang paling menyebalkan tentu saja adalah meminta kiriman tulisan dari Iqbal Aji Daryono, sopir yang sekarang kerja di Ostrali itu.

BACA JUGA:  Nezar Patria, Teman Saya yang Asu

Lha bayangkan, dulu, waktu awal-awal Mojok masih merangkak, si Iqbal ini bisa menulis seminggu tiga kali, tapi setelah namanya besar, dan kemudian sering diminta nulis di berbagai media besar dengan bayaran yang jauh lebih besar juga, ia jadi susah untuk dimintai tulisan. Kemaki-nya ngaudubillah setan, dimintai tolong untuk nulis sebulan sekali saja harus pakai dipaksa, itupun dengan ancaman tidak akan kami temui kalau ia pulang ke Indonesia. Itulah pertama kalinya saya paham benar dengan konsep “kacang lupa kulitnya”.

Menjadi redaktur Mojok kemudian menjadi identitas saya. Orang-orang banyak mengenal saya sebagai Agus Mojok alih-alih identitas lazim saya semisal Agus Mulyadi, Agus Magelangan, Agus Don Juan, dan sederet identitas lain yang saya punya.

Beberapa kali saya diundang jadi pembicara tersebab saya dianggap mewakili entitas Mojok. Saya bahkan pernah menjadi pembicara di Innovative Talk-The Backstage di UGM, Universitas yang dulu sewaktu SMA saya ingin sekali kuliah di sana. Hampir setiap kali saya diundang sebagai pemateri atau pembicara dalam diskusi atau seminar, embel-embel “Redaktur Mojok” selalu ada dalam atribusi diri saya. Tentu hal ini sangat menyenangkan bagi saya. Dianggap sebagai bagian dari media alternatif yang dikenal luas sebagai media yang kritis namun jenaka.

Dan, ya… Hal yang paling menyenangkan dari menjadi bagian dari Mojok tentu saja adalah soal perempuan. Di Mojok, saya dipertemukan dengan penulis perempuan yang di mata saya manisnya ngedap-edapi, penulis yang kemudian saya bribik dengan semangat dan etos kerja yang paling luar biasa, hingga akhirnya, saya berhasil mendapatkan satu petak ruang di hatinya. Kami berpacaran, dan alhamdulillah, sampai tulisan ini saya tulis, dia belum memutuskan saya.

Boleh dibilang, saya mendapatkan banyak hal dari Mojok. Uang, pengalaman, pacar, bahkan ketenaran (uhuk). Ini yang membuat saya selalu merasa bahwa Mojok adalah diri saya yang lain. Maka, tatkala saya harus menuliskan tulisan ini sebagai tulisan perpisahan untuk Mojok (yang mana kita tahu, tanggal 28 Maret nanti akan ditutup total), saya merasa bingung dan begitu sentimentil. Saya tak tahu, harus mengakhiri tulisan ini dengan apa dan bagaimana. Sungguh.

Maka, pembaca, izinkan saya untuk menuliskan bagian ini:

Mojok.co dibangun dengan kegembiraan, dan akan diakhiri dengan kegembiraan pula. Sekali berarti, sesudah itu mati… Mojok.co fana, Mojok abadi…

Komentar
Add Friend
No more articles