Ada banyak sekali cara untuk membahagiakan orang tua. Cara yang paling sangar adalah dengan tumbuh menjadi anak yang sukses dan bisa dibanggakan, sedangkan cara yang paling kurang ajar adalah dengan membahagiakan diri sendiri, sebab konon katanya, kebahagiaan anak adalah juga kebahagiaan orang tua.

Seperti halnya semua anak di dunia, saya tentu saja ingin juga membahagiakan orangtua saya. Namun sayang, saya tak mampu membahagiakan orangtua saya dengan cara yang sangar. Sebab sejauh ini, saya belum jua tumbuh menjadi anak yang sukses, yang punya bisnis menggurita, misalnya, atau bisa ngaji yasin. Pun, saya juga tak mau membahagiakan orangtua dengan cara yang kurang ajar, sebab banyak kebahagiaan-kebahagiaan saya yang sejujurnya tidak membuat orang tua saya ikut bahagia, melihat MU juara, misalnya.

Maka, saya mencoba mencari cara lain untuk membahagiakan orangtua saya. Dan pada akhirnya, saya menemukan bahwa ada banyak cara-cara lain yang sederhana yang mampu membikin orantua saya bahagia. Salah satunya adalah dengan membiarkan mereka merasa cerdas, pintar, dan tahu segalanya. Untuk yang satu ini, sengaja saya khususkan untuk bapak saya saja.

Bapak saya itu, kalau soal pelajaran Biologi, kemlinthi-nya minta ampun. Sok pintar, merasa seolah-olah ia hafal banyak tentang nama ilmiah tumbuhan. Padahal sejauh yang saya tahu, nama ilmiah tumbuhan yang bapak hafal ya cuma dua, yaitu kentang (Solanum tuberosum), dan padi (Oryza sativa).

Hanya dengan bekal hafal nama ilmiah dua tumbuhan tadi, Bapak dengan segala ke-tidaktahudiri-annya, selalu saja show off pengetahuan. Kalau pas nonton tivi dan ada gambar padi atau persawahan, Bapak akan sok-sokan bertanya “Kamu tahu, apa nama ilmiah padi?”

Sebagai redaktur Mojok cum penulis yang sudah berkali-kali masuk tivi dan dulu masuk kelas IPA, tentu saja saya sebenarnya sudah tahu. Namun, ya itu tadi, saya ingin membuat orangtua saya bahagia. Maka dengan segala kerendah-hatian saya, saya bilang saja sama Bapak saya kalau saya tidak tahu.

Saya ingat betul teori ini: Salah satu cara menyenangkan hati kawanmu adalah dengan membuatnya terlihat pintar, dan cara terbaik untuk membuat kawanmu terlihat pintar adalah berpura-puralah menjadi bodoh saat di depannya.

Teori inilah yang saya pakai untuk menyenangkan hati Bapak saya.

Saya sengaja menjawab tidak tahu apa nama ilmiah padi, tentu sekadar membesarkan hati Bapak, karena biasanya, setelah saya menjawab tidak tahu, Bapak pasti akan menimpali: “Mosok nama ilmiah padi saja tidak tahu,” kata bapak dengan nada yang sangat meremehkan. “Nama ilmiah padi itu Oryza sativa, diingat-ingat, penting itu,” lanjutnya dengan tampang yang sok, seakan-akan tidak ada ilmu pengetahuan lain yang urgensinya lebih tinggi dari sekadar nama ilmiah padi.

BACA JUGA:  Aksi Kepung Borobudur di Mata Karjo dan Romlah

Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berakting pah-poh ngah-ngoh ndah-ndoh plonga-plongo. Berakting seolah saya memang benar-benar tidak tahu apa nama ilmiah padi, berakting seakan-akan saya mendapat pencerahan yang begitu luar biasa setelah diberi tahu nama ilmiah padi oleh Bapak.

Sekali lagi, hal itu saya lakukan sebab hanya dengan begitulah Bapak saya punya kesempatan untuk show off ilmu pengetahuan, dan itu adalah salah satu sumber kebahagiannya.

Sungguh, raut kepuasan bapak saya setelah memberikan “pencerahan”-nya kepada saya soal nama ilmiah padi adalah seindah-indahnya kebahagiaan.

Lalu, apakah saya kemudian benar-benar berusaha menghafalkan nama ilmiah padi seperti yang bapak suruh? Tentu saja tidak, kan sedari awal saya memang sudah hafal. Kalaupun toh kemudian saya lupa apa nama ilmiah padi, tentu itu tak jadi soal, sebab sampai saat ini, saya masih belum tahu, apa manfaat signifikan dari hafal nama ilmiah padi.

Adu Popularitas

Jujur saja, sejak saya menjadi redaktur Mojok, saya merasa punya nasib yang cukup moncer, nama besar yang lumayan mentereng, dan kepopuleran yang cukup mumpuni. Ditambah dengan kiprah masa lalu saya sebagai tukang edit foto bareng artis yang kemudian mengantarkan tampang saya masuk berkali-kali di tivi. Lengkap sudah kepopuleran saya.

Maka tak heran jika kemudian saya sering kali merasa kemaki kalau pas di jalan ada orang yang menyapa (atau bahkan sambil minta foto bareng, hehe), “Eh, ini Mas Agus Mulyadi yang blogger itu ya?”, “Eh, ini Agus Mulyadi redaktur Mojok ya?” atau “Eh, mas ini yang suka ngedit foto bareng artis itu kan?”

Namun belakangan, baru saya sadar, bahwa untuk urusan kepopuleran, pada ttitik tertentu, saya masih kalah unggul kalau dibandingkan dengan bapak saya.

Pernah suatu ketika, sehabis menghadiri acara di Jogja, saya terpaksa pulang kemalaman. Sampai di Artos (nama mall di Magelang yang sering digunakan untuk lokasi jujugan naik turun penumpang Magelang-Jogja) sudah sekitar jam 9 malam, sudah tidak ada angkot yang melayani trayek ke arah rumah saya (di Magelang, angkot lokal cuma beroperasi sampai jam delapan malam).

Rumah saya berada di Kampung Seneng (iya, nama kampung saya memang Kampung Seneng, Kampung bahagia). Jarak dari Artos ke Seneng sebenarnya cukup dekat, kalau memang niat, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namun karena waktu itu barang bawaan saya cukup banyak, dan lagi juga sudah malam, tak elok rasanya kalau seorang redaktur Mojok harus jalan kaki. Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek.

BACA JUGA:  7 Snack Favorit Versi Agus Mulyadi

“Mas, Seneng-nya sebelah mana?” tanya Si Tukang ojek di tengah-tengah perjalanan

“Seneng kulon kali pak, deket mushola Nurul Hidayah” jawab saya mencoba memberi ancer-ancer

“Kalau sama rumahnya Pak Trimo mananya?”

“Lha saya ini anaknya pak Trimo, Pak!”

Si Tukang ojek tercekat, “Oalah, anaknya pak Trimo tho!”

Kali lain, akun facebook saya pernah pernah di add sama orang Surabaya, saya tak tahu apa alasan orang tersebut menambahkan saya sebagai teman. Mungkin ia pernah membaca blog saya, mungkin. Maka, sebagai orang yang menjunjung tinggi Pancasila terutama sila ke tiga, permintaan pertemanan beliau langsung saya terima. Tak berselang lama, beliau ini langsung mengirimkan pesan chat pada saya.

“Mas, sampeyan Magelangnya mana?” Kata beliau

“Seneng, Mas, depan Kompleks perumahan Akademi Militer,” jawab saya

“Heee, Seneng? Kalau sama Pak trimo sebelah mananya?”

“Saya ini anaknya pak Trimo, Mas!”

Pada kesempatan lain, Sewaktu saya iseng mencoba menjadi gaet untuk bule yang ingin berlibur ke Borobudur, si sopir yang mengantarkan kami dari Hotel ke Borobudur berbincang singkat dengan saya.

“Mas, sampeyan kursus bahasa inggrisnya berapa lama?”

“Wah, saya ndak pernah kursus, Pak, saya belajarnya cuma lewat internet.Lagian, saya ini bahasa inggrisnya juga masih ecek-ecek, masih dasar, ndak mudeng sama tenses dan tata bahasa, yang penting bule yang diajak ngomong bisa ngerti”

“Tapi kok ngomongnya lumayan lancar gitu? Apa rumah sampeyan memang di deket Borobudur, Mas? Jadi, bisa latihan ngomong sama bule-bule disitu…”

“Ah, ndak kok, Pak, rumah saya di daerah Mertoyudan sini kok, ndak jauh dari Artos.”

“Memangnya rumah sampeyan mana, Mas?”

“Seneng, dekat perumahan akademi militer?”

“Oalah, Seneng tho,” kata pak Sopir, lalu kelihatan merenung. “Kalau ndak salah, saya punya temen di Seneng!” lanjutnya

“Siapa, Pak, barangkali saya kenal.”

“Trimo. Kamu kenal sama Trimo?”

“Saya anaknya!”

Semenjak saat itu, saya semakin sadar, bahwa tokoh yang sanggup mengguncang dan membahayakan eksistensi saya di Kampung Seneng, agaknya adalah bapak saya sendiri.

Benar-benar musuh dalam selimut.

Komentar
Add Friend
No more articles