Tak bisa dipungkiri bahwa untuk ukuran seorang lelaki, hidup Rambat memang terlalu kacau dan tidak teratur. Ia benar-benar menjalani laku hidup yang bebas dan tanpa hasil. Betapa tidak, gajinya sebagai pengantar stok benang dan kain dari Semarang ke toko-toko tekstil di Jogja hampir selalu ludes di akhir pekan hanya buat hura-hura: mabuk-mabukan, karaokean, berjudi, sampai bermain perempuan.

Kehidupan yang kacau itu terus bertahan bahkan sampai Rambat menginjak usia kepala tiga. Usia di mana selayaknya lelaki di kampungnya sudah bisa bertindak dewasa dan matang.

Dasar hidup siapa yang tahu. Di tengah kekacauan hidupnya yang terasa tiada akhir itu, Rambat dipertemukan oleh Tuhan dengan Santo, temannya satu sepermabukan dulu sewaktu di perantauan.

Pertemuannya dengan Santo tempo hari lalu di sebuah kolam pemancingan di Magelang rupanya punya pengaruh yang sangat besar. Santo yang hidupnya pernah tak jauh berbeda dengan Rambat bercerita perihal kehidupan barunya. Ia mengaku dulu juga suka mabuk-mabukan dan bermain perempuan, gajinya selalu habis untuk keperluan hiburan tanpa bisa menabung sepeserpun, bahkan kadang, ia harus berhutang kepada kawan-kawannya sekadar agar punya pegangan selama sebulan kedepan sebelum gajian.

Hidupnya berubah total setelah ia menikah. Setelah berumah tangga, Santo mulai bisa hidup layaknya seorang lelaki bertanggung-jawab. Tidak lagi mabuk, tidak lagi melacur. Uang hasil kerjanya ia percayakan kepada istri tercinta. Kini, ia sudah dikaruniai dua orang anak yang lucu dan bisa membuka kios sembako kecil-kecilan tak jauh dari rumah mertuanya.

“Dulu itu aku juga hidupnya kacau, dol, lepas kontrol, dikit-dikit nyiu, dikit-dikit nglonte, tapi setelah menikah, hidupku berubah, jadi lebih nggenah. Punya istri membuat aku lebih teratur, sebab jadi ada yang mengatur, ada yang mengingatkan, ada yang bisa dijadikan tempat curhat kalau sedang ruwet,” kata Santo.

Cerita tentang Santo yang berubah hidupnya setelah menikah itu rupanya membuat Rambat perlahan ingin mengikuti jejak Santo. Rambat ingin berubah, bagaimanapun, Rambat sebenarnya juga sudah merasa sangat lelah dengan kehidupan liarnya selama ini.

“Aku harus menikah, secepatnya.” Batin Rambat.

Rupanya, niat Rambat untuk menikah tidak main-main, ia bahkan langsung mendatangi Sronto, kawan dekat sekaligus rekan kerjanya untuk bercurah hati perihal keinginan hidupnya ini. Rambat sudah sangat berharap, setelah menikah, ia bisa menjalani hidup yang lebih teratur, lebih baik, dan lebih bermutu.

“Beneran kamu ingin menikah?” Tanya Sronto

“Lha yo beneran tho yo, aku ini sudah tiga dua, sudah waktunya buat berumah-tangga. Kamu pikir aku cuma main-main?” Jawab Rambat.

“Hahaha, bukan begitu, wajar kan kalau aku bertanya kamu serius apa tidak, Lha wong kamu ini kan orangnya mencla-mencle, sekarang A besok B, esuk dele sore tempe,”

“Iya, aku tahu, tapi untuk yang satu ini, aku serius. Bapak dan ibuku juga sudah wanti-wanti biar aku segera menikah, dan kelihatannya memang sekaranglah saatnya.”

“Alhamdulillah, baguslah kalau begitu, biar kamu nggak jajan terus sama anak buahnya Mami Sisca, biar kalau ke Jogja sehabis nganter barang ke toko bisa langsung pulang, bukan malah mampir ke Sarkem.”

“Nah, gene kamu paham. Gimana? Kamu ada pandangan nggak?”

“Pandangan apa?”

“Ya pandangan calon, siapa tahu kamu punya kenalan yang cocok dan satu visi sama aku,”

“Wah, sek, nanti biar aku coba tanyakan ke Pakdheku, siapa tahu dia punya koneksi yang bisa bantu kamu buat cari calon istri,”

“Siiiip, mantap!” Ujar Rambat bungah.

Pencarian calon istri rambat pun dimulai. Siswanto, Pakdhenya Sronto rupanya cukup bisa diandalkan. Ia punya banyak kenalan perempuan yang ndilalah juga sedang mencari calon suami. Namun sayang, dari tiga perempuan yang coba dijodohkan dengan Rambat, tak ada satupun yang jadi. Rambat merasa tidak cocok dengan dua perempuan pertama yang dijodohkan dengannya, sedangkan satu perempuan terakhir, pihak perempuannya lah yang merasa tidak cocok dengan Rambat.

Agaknya, nasib baik masih mau berteman dengan Rambat. Jodoh Rambat rupanya justru datang melalui Cik Maria, juragan toko tempat Rambat sering mengantarkan kain dan benang. Kala itu, rambat sedang bercerita kepada suami Cik Maria tentang niatnya ingin berumah tangga, dasar untung, Cik Maria yang tak sengaja mendengar obrolan suaminya dengan Rambat langsung ikut bergabung dalam obrolan dan menawarkan seseorang.

“Walah, Mbat, kebetulan, kalau kamu memang serius ingin menikah, aku punya calon yang mungkin cocok buat kamu,”

“Wah, beneran, Cik?”

“Beneran, namanya Lastri, umurnya tiga puluh, dia dulu pernah jadi karyawan juga, ikut aku, tapi di Toko yang di Sragen, bukan yang di Jogja. Aku dengar, dia sekarang sedang cari suami, kali saja kamu cocok, orangnya lumayan manis, lho, Mbat.” Kata Cik Maria

“Wah, Ha mbok saya dikenalkan, Cik, siapa tahu kami memang jodoh.”

“Iya, habis ini tak kasih nomernya, kamu hubungi sendiri, semoga jodoh. Tapi, Mbat, dia janda je, tapi belum punya anak sih. Gimana? Kamu masih berminat?”

“Halah, Cik. Janda juga nggak papa, kalau memang jodoh, mau perawan atau janda, nggak jadi masalah. Wong ya saya sendiri kan juga sudah nggak perjaka,” jawab Rambat sembari meringis kecil.

“Woooo, dasar.”

Begitulah. Pada akhirnya, Rambat ternyata benar-benar berjodoh dengan Lastri. Ndilalah, Lastri juga tertarik dengan Rambat, terlebih setelah tahu dari Cik Maria tentang keseriusan Rambat untuk berumah tangga.

Rambat bergerak cepat, tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menikah. Resepsi kecil-kecilan pun digelar di rumah orang tua Lastri si Solo.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu menikah juga, Mbat,” Kata Sronto di sebuah warung kopi tak jauh dari rumah Rambat, “Dapat istri manis lagi,” lanjutnya.

“Iya, aku nggak nyangka, To.”

“Eh, ngomong-ngomong, soal malam pertama, gimana malam pertamamu, Mbat? Dahsyat nggak?” Tanya Sronto sedikit berbisik penasaran.

Dasar sahabat kental, urusan malam pertama pun tak sungkan buat ditanyakan.

“Wah, dahsyat, Aku benar-benar nggak nyangka, ternyata, main sama istri sendiri rasanya jauh lebih memuaskan ketimbang main sama anak-anaknya Mami Sisca.” Jawab Rambat polos.

“Yah, begitulah, Mbat. Namanya juga main sama istri sendiri, mainnya pakai cinta, tentu beda kalau sekadar main pakai nafsu.”

“Tapi…” kata Rambat dengan wajah yang melas.

“Tapi apa, Mbat?”

“Aku terbawa kebiasaan lama sewaktu sering nglonte dulu,”

“Kebiasaan lama? Maksudnya?”

“Iya, kebiasaan lama. Begitu aku selesai main sama Lastri, istriku, aku reflek langsung ngambil dompet dan ngasih Lastri uang dua ratus ribu,”

Demi mendengar jawaban konyol si Rambat, Sronto sontak tertawa terbahak. Si pemilik warung sampai menghentikan pekerjaannya sekadar untuk menoleh ke arah Sronto.

“Dasar pekok, manten amatiran,” kata Sronto.

“Namanya juga kebiasaan, nggak bisa langsung hilang kalau belum dibiasakan.”

“Trus, gimana si Lastri? Marah nggak?” Tanya Sronto.

“Enggak marah, malah justru aku yang marah.” Ujarnya sambil mbesengut.

“Lho, kok bisa?”

“Lha yo bisa, wong setelah tak kasih dua ratus ribu, Lastri buru-buru ngambil tasnya, trus ngasih aku kembalian tiga puluh ribu.”

Tawa Sronto tak terbendung lagi.

Komentar
Add Friend
No more articles