MOJOK.COPekerjaan bagi seseorang adalah materi outbound bagi seseorang yang lain. 

Dua hari terakhir ini, saya menginap di Kembang Kuning. Sebuah desa wisata yang sangat indah di wilayah Kecamatan Sikut, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Saya bersama beberapa kawan memang sedang mengerjakan proyek penulisan buku tentang program Lomba Kampung Sehat, yang mana Desa Kembang Kuning merupakan salah satu pesertanya.

Berlokasi di wilayah dataran tinggi, Kembang Kuning menawarkan bentang alam persawahan yang syahdu dan semlehoy. Dari Kembang Kuning, gagahnya Gunung Rinjani itu bisa dinikmati dengan jelas sehingga makin menambah indah pemandangan persawahan di sana.

Sebagai sebuah desa wisata, tentu saja bukan hanya keindahan alam yang ditawarkan kepada para turis yang datang ke sana. Maklum, di banyak daerah di Indonesia, keindahan alam adalah hal yang biasa. Ia sudah menjadi semacam kebudayaan.

Hal tak biasa yang mampu ditawarkan oleh Kembang Kuning kepada turis yang datang adalah sesuatu yang saya sebut sebagai “sensasi bersusah payah.”

Di desa wisata ini, ada banyak menu makanan dan minuman yang bisa dinikmati. Ikan bakar dengan aneka sayur dan sambal yang ciamik lengkap dengan nasi yang pulennya menggemaskan. Minumannya pun tak kalah dahsyat, ada es jeruk, kopi tubruk khas Kembang Kuning, juga tak ketinggalan air kelapa muda segar yang langsung petik.

Harganya? Cukup terjangkau. Asal nggak melarat-melarat amat, aneka sajian makanan dan minuman itu bisa dengan mudah ditebus.

Baca juga:  Bagaimana Orang-orang Desa di Cina Melawan Corona? Apa Mirip dengan di Indonesia?

Nah, yang menarik adalah, harga makanan dan minuman itu bisa naik dengan drastis jika pengunjung yang memesan menu tersebut mau ikut bersusah-payah dalam mendapatkan menu tersebut.

“Harga kelapa muda ini satu butirnya lima ribu, Mas,” terang Kades Kembang Kuning Lalu Muhammad Sujian pada saya, “Namun kalau Mas mau metik langsung dari pohonnya, dalam artian Mas yang manjat pohonnya, maka harganya jadi lima puluh ribu.”

Saya sempat berpikir itu hanya sekadar guyonan belaka. Namun setelah saya tanyakan lebih lanjut, apa yang dikatakan oleh Pak Kades yang gampang tertawa itu ternyata serius adanya. Memang itu yang dijual oleh desa ini.

“Bukan hanya kelapa, Mas. Makanan yang lain juga,” katanya.

“Hah? contohnya, Pak?” tanya saya.

“Kopi, misalnya. Kopi asli Kembang Kuning ini seperempat kilo kami jual dua puluh lima ribu, tapi kalau yang beli ikut menumbuk dan menggiling sendiri kopinya, maka harganya jadi dua ratus lima puluh ribu. Lalu ikan bakar, itu per porsi harganya sekitar lima puluh ribu, tapi kalau pengunjung ikut memancing dan memasak sendiri ikannya, maka harganya jadi lima ratus ribu.”

Tentu saya agak kaget dibuatnya.

Saya memang sudah akrab dengan konsep turis ikut merasakan proses seperti menanam padi, membajak sawah, memanjat pohon kelapa, angon kebo, mencabuti ketela, dan aktivitas pedesaan lainnya. Bagi banyak orang-orang desa, aktivitas menanam padi dan sebangsanya itu adalah pekerjaaan sehari-hari. Namun bagi orang-orang kota, aktivitas tersebut tentu saja adalah sebuah pengalaman spiritual.

Baca juga:  Jangan-Jangan, Kehadiran NYIA Bakal Bikin Fashion Saya Nggak “Bodo Amat” Kayak Dulu?

Maka, tak heran jika kemudian pedesaan dengan segala aktivitas susah payahnya itu “dikomersilkan” menjadi dagangan.

Mungkin memang begitulah seharusnya. Semata agar keseimbangan kosmis tetap terjaga. Orang-orang desa yang selalu menganggap kota sebagai entitas yang modern, maju, dan serba gemerlap itu harus sadar, bahwa di kota, ada banyak orang-orang yang mau membayar mahal untuk bisa menjadi “orang desa” barang sehari dua.

Sudah mafhum bahwa pekerjaan bagi seseorang adalah materi outbound bagi seseorang yang lain.

Namun khusus apa yang terjadi di Kembang Kuning adalah hal yang istimewa. Mereka menjual kerja keras itu dengan harga sepuluh kali lipat. Saya tak menyangka bahwa ada yang bersedia membayar semahal itu untuk sebuah susah payah. Ini sungguh membuat saya heran setengah mampus.

“Itu yang mau manjat pohon kelapa bayar lima puluh ribu jumlahnya banyak, Pak?” Tanya saya.

“Banyak, banyak sekali, Mas.”

“Orang Indonesia?”

“Ya nggak lah. Turis manca. Turis Indonesia mana mau bayar segitu,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Mendengar jawaban pendek itu, saya lega. Keheranan saya mendadak sirna. Bagaimana pun, di Indonesia ini, bukan hanya keindahan alam yang menjadi budaya, namun juga keengganan untuk membayar sesuatu dengan harga yang mahal.

Dan jawaban Pak Kades menjadi bukti penting bahwa orang-orang Indonesia cukup tekun dalam menjaga budayanya.

BACA JUGA Belajar Bersyukur dari Kisah Tsutomu Yamaguchi dan artikel Agus Mulyadi lainnya.