MOJOK.CO – Jangan dikira menjadi penjual mainan anak-anak keliling adalah pekerjaan sederhana. Ia adalah pekerjaan yang kompleks dan penuh dengan seni.

Berdagang ada kalanya bukan hanya soal menjual. Transaksi hanyalah titik akhir dari rangkaian pertarungan batin dan negosiasi yang panjang. Kadang berbelit-belit. Cenderung melelahkan.

Seorang penjual yang cemerlang pastilah menguasai banyak hal. Kecerdikan adalah salah satunya. Dan paham gejolak psikologis calon pembeli adalah salah duanya.

Dari dari sekian banyak penjual yang pernah saya hadapi sebagai seorang pembeli, penjual mainan keliling adalah salah satu yang paling manakjubkan.

Mereka bukan hanya mampu membuat anak-anak mau membeli mainan-mainan mereka, lebih dari itu, mereka membangun reputasi sebagai seorang pembangun tren dalam bisnis mainan anak-anak.

Otak mereka penuh dengan taktik, intrik, kecerdikan, dan sesekali kelicikan.

Saya ingin bercerita tentang bagaimana beberapa penjual mainan yang pernah saya kenal, yang ternyata punya sisi kedahsyatan yang tak banyak orang membayangkannya. Rasanya menyenangkan mempelajari bagaimana cara mereka berproses untuk menjual mainan-mainan mereka.

Bagi banyak orang, pekerjaan mereka mungkin tampak biasa, tapi di mata saya, pekerjaan mereka adalah seni.

Seni membual

Anak-anak boleh jadi tertarik pada mini 4 WD (atau sebut saja tamiya), setelah menonton kartun “Let’s and Go” atau “Dash Yonkuro”, namun kebulatan tekad mereka untuk membeli tamiya salah satunya adalah karena penjual mainan keliling membawanya ke hadapan anak-anak.

Selama tak banyak anak yang beruntung bisa nongkrong di Kidz Station, selama itu pulalah penjual mainan keliling menjadi ujung tombak penjualan tamiya.

Nah, di level inilah ilmu membual ini saya dengar langsung dari si penjual.

Anak-anak cenderung suka dengan hal yang spesial. Ia suka sekali dengan mainan yang hanya dia sendiri yang punya.

Penjual mainan paham betul akan hal itu, itulah kenapa, setiap ia membawa mainan baru, ia kerap berkata “Ini stok terakhir”, “Ini model langka”, atau “Penjual yang lain belum tentu punya yang ini.”

Ketika penjual membawa tamiya jenis “Spin-X”, misalnya, maka dia akan dengan entengnya bilang bahwa itulah satu-satunya Spin-X yang ada di distributor.

Psikologi si anak akan memaksa dia untuk harus membelinya. Maka, tak butuh waktu lama bagi si anak untuk segera membeli, atau minimal menyuruh si penjual untuk menyimpannya karena ia akan membelinya keesokan harinya, tentu setelah merengek setengah mampus kepada orangtuanya.

Kalau ternyata setelah si anak membelinya dan kemudian ia menemukan ada kawan lain yang ternyata juga punya tamiya jenis serupa, gimana? Ya biarkan saja.

Tugas orang dewasa memanglah menipu anak kecil, dan tugas anak kecil adalah memaafkan serta melupakannya.

Seni mengelabui

Ini kemampuan yang tak banyak dipunyai oleh pedagang selain pedagang mainan: mengelabui.

Anda sekarang mungkin tak terlalu peduli karena sekarang Anda sudah dewasa. Tapi cobalah ingat-ingat saat dulu Anda masih kecil. Betapa semua mainan tampak begitu menarik dan menyenangkan ketika dimainkan oleh si Abang penjual, tapi ketika kita beli dan kita mainkan sendiri, rasanya tak semenarik saat dimainkan oleh Abang penjualnya.

Ini seni yang susah dipelajari. Jangankan dipelajari, untuk sekadar dipahami pun susah.

Mengelabui adalah bagian penting bagi seorang penjual mainan keliling.

Salah satu teknik mengelabui yang paling saya ingat sampai sekarang ini tentu saja adalah teknik jualan cabutan. Sebuah konsep jualan lotere ala anak-anak. Jadi, si pembeli membayar sejumlah uang, setelah itu, ia boleh mencabut satu dari setumpuk benang, yang mana di ujung benang-benang tersebut tergantung banyak gambar mainan-mainan murah (biasanya gambar umbul yang sudah diguntingi kecil-kecil).

Ada satu atau dua benang yang ujungnya berisi mainan mahal. Nah, Benang itulah yang berusaha dicabut oleh si pembeli.

Kelak, seberapa sering pun si benang-benang itu dicabut, akan sangat susah untuk mendapatkan benang yang ujungnya tergantung mainan termahal.

Alasannya begitu sederhana. Karena benang yang ujungnya tergantung mainan mahal itu memang digunakan sebagai pengikat sekumpulan benang itu tadi. Jadi ya sampai mampus pun, benang yang isinya mainan mahal tak akan bisa dicabut, kecuali oleh di abang penjualnya sendiri.

Ketika saya mendengar langsung rahasia besar ini dari pelakunya, saya merasa ada amarah yang meletup-letup dalam diri saya.

Seni mengompori

Inilah kemampuan yang kemungkinan juga dikuasai oleh motivator atau trainer yang hobi bilang “Bayangkan bila saat kalian pulang, di jalan depan rumah kalian sudah terpasang bendera kuning” itu.

Penjual mainan keliling adalah kompor yang sangat lihai. Ia pandai memanfaatkan psikologi calon pembeli untuk meningkatkan penjualan mereka.

Saya ingat betul dulu ketika sedang musim pistol yang isinya pelet gotri dari plastik itu, saya dan kawan-kawan lelaki satu kelas berlomba untuk membeli pistol dengan model terbaik.

Yang bapaknya kaya bakal cukup beruntung karena bisa beli pistol dengan model yang lebih keren. Sedangkan yang bapaknya melarat dan menyedihkan, harus puas dengan hanya membeli pistol model biasa, itu pun harus disertai dengan tangis, bentakan orangtua, dan keputusasaan yang berkepanjangan.

Kalau tiba saatnya jam istirahat di sekolah, kami semua langsung berhamburan ke luar untuk menengok abang penjual mainan. Barangkali ia membawa pistol model jenis baru yang kami sudah sangat puas hanya dengan melihatnya tanpa perlu membelinya.

Di titik itulah Abang penjual mainan ini memainkan jurus kompornya.

“Tadi aku sudah bawa model yang baru, bagus banget, tapi sudah dibeli sama anak SD sebelah.”

Demi mendengar pernyataan yang entah benar entah tidak itu, muntablah kami. Betapa harga diri kami terinjak-injak karena ternyata ada anak dari SD lain yang bisa membeli pistol dengan model terbaru. Bukannya salah satu dari kami.

Kami kemudian berharap kepada kawan yang kami anggap paling kaya untuk mengembalikan kehormatan dan nama baik SD kami. Tentu saja dengan cara menyurugnya membeli pistol yang serupa dengan yang dibeli oleh anak SD sebelah.

Si penjual mainan ini, melalui kata-katanya, benar-benar berhasil menciptakan persaingan yang mungkin sebenarnya tidak perlu ada. Ia piawai betul melibatkan gengsi dan harga diri dalam proyek penjualan pistol mainannya.

“Bang, besok jangan lupa bawa model terbaru ya,” kata kawan kami yang bapaknya tajir.

Si penjual mainan menyanggupi. ia pastilah merenges dalam hati. Ia paham, menciptakan skenario persaingan adalah cara terbaik untuk menjual pistol mainannya. Dan kali ini, ia berhasil.

Benar-benar penjual mainan yang sangat berbakat menjadi Amerika.