MOJOK.CODono bersama Warkop bukan pelawak biasa. Mereka senantiasa membawa kritik dan pesan pada lawakan-lawakan mereka.

Kalau kau tak bisa menjadi lelaki bertampang lumayan, makmur, dan romantis, maka setidaknya jadilah lelaki yang lucu.

Saya tak tahu siapa yang pertama kali mengatakan kalimat tersebut. Yang jelas, dalam romantika kehidupan berasmara, menjadi lucu adalah salah satu modal yang sangat berharga untuk bisa menggaet lawan jenis.

Konon, berwajah rupawan bisa membuat seseorang menyelesaikan separuh masalah. Namun punya selera humor yang bagus bisa membuat seseorang merasa sama sekali tak punya masalah.

Humor, memang sesuatu yang menarik. Bukan hanya dalam asmara, namun dalam banyak hal.

Pengajian atau ceramah dengan tema yang berat bisa menjadi sangat menyenangkan dan enak untuk disimak ketika ada humor yang disisipkan ke dalamnya. Sejak jaman Zainuddin MZ sampai Gus Baha, humor terbukti mampu menjadi magnet tersendiri.

Mata pelajaran yang rumitnya setengah mampus akan tetap menjadi pelajaran yang sayang untuk dilewatkan jika disampaikan oleh seorang guru yang jenaka dan doyan prengas-prenges.

Itulah kenapa, sejak dulu, humor selalu efektif sebagai pelicin komunikasi. Bukan hanya komunikasi yang menyenangkan, kadang komunikasi yang memuakkan sekalipun. Kritik salah satunya.

Mungkin masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana sosok Bintang Emon menyampaikan kritik atas kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan dengan sebuah video lucu beberapa waktu yang lalu.

Kita tak bisa menampik bahwa pesan dari kritik tersebut benar-benar sampai pada banyak orang karena ia lucu. Orang-orang tak segan untuk menyebarkannya.

Hal tersebut semakin menjadi penegas bahwa kritik yang efektif itu syaratnya tiga: Disampikan oleh orang yang cerdas, disampaikan oleh orang yang lucu, atau disampaikan oleh orang yang cerdas sekaligus lucu.

Untuk poin yang terakhir ini, tampaknya tak ada sosok yang lebih representatif ketimbang para personel Warkop.

Baca juga:  Film Benyamin Sueb dan Reza Rahadian Lagi Reza Rahadian Lagi

Di Twitter, seharian ini, ramai beredar tulisan-tulisan kritis Dono yang pernah terbit di beberapa media. Dono, dengan gaya tulisan yang orisinil dan jenaka begitu baik mengolah kritik terhadap kondisi sosial masyarakat.

Dalam salah satu tulisan berjudul “Kisah Sertu Jumadi” yang viral itu, Dono menuliskan dengan ciamik tentang beban seorang polisi yang harus sesekali melakukan aksi semprit damai sebagai bagian dari usaha menyambung hidup karena gaji yang didapatkan begitu kecil sedangkan iuran yang harus ia bayarkan begitu banyak.

Dalam tulisan itu, ia dengan jenakanya menulis bahwa demi wibawa, seorang polisi seharusnya menaiki motor besar yang gagah. Sayangnya, polisi berpangkat rendah yang tak punya motor dinas dan bergaji sedikit hanya kuat pakai motor bebek biasa, hal yang membikin dia jadi serupa polisi yang sedang menaiki motor sitaan atau motor barang bukti. Polisi jadi tampak blas nggak berwibawa.

Tulisan Dono tersebut membikin banyak orang tak menyangka. Orang-orang seakan tak percaya bahwa seorang Dono, yang selama ini citranya kadung terbangun sebagai sebagai seorang pelawak yang doyan ngajak Kasino dan Indro main ke pantai itu, ternyata mampu menulis dengan amat baik. Bahkan bukan tulisan biasa, melainkan tulisan yang sarat akan kritik.

Padahal, kalau menilik sejarah dan rekam jejak Dono, justru seharusnya sebaliknya. Dono memang seharusnya banyak menulis dan sedikit berakting.

Seorang Dono, tak selayaknya menjadi pelawak. Tak seharusnya menjadi Slamet, anak juragan tembakau yang kelak punya mobil dengan bemper yang senada dengan bentuk mulutnya itu.

Seorang Dono, yang mahasiswa sosiologi jempolan jebolan UI dan bahkan sampai pernah menjadi asistennya Prof. Selo Soemardjan itu seharusnya tumbuh menjadi apa saja, yang jelas bukan pelawak. Entah sebagai wartawan seperti Aristides Katoppo atau kompatriotnya di Warkop Prambors Rudi Badil itu. Atau menjadi akademisi seperti Arif Budiman. Atau menjadi politisi sekalian. Yang jelas, bukan pelawak.

Baca juga:  Lebaran, 650 Tahun Setelah Kesultanan Majapahit

Namun toh, pada akhirnya Dono memilih jalan pedang itu. Menjadi pelawak. Bukan hanya pelawak biasa, namun pelawak terbesar pada masanya.

Mungkin dengan canda tawa-lah, ia bisa menyalurkan kritik-kritiknya. Bukan dengan tulisan, namun melalui adegan.

Dono, bersama Kasino dan Indro tampil sebagai trio yang begitu gencar melancarkan kritik-kritik sosial dalam setiap episode Warkop DKI yang mereka bintangi.

Semua tentang warkop adalah kritik.

Lihatlah deretan judul film-film Warkop: Setan Kredit, Chips, Pokoknya Beres, Maju Kena Mundur Kena, Itu Bisa Diatur, sampai Bebas Aturan Main. Dari judulnya saja sudah tampak bahwa ada kritik di dalamnya.

Dari tagline-nya juga jelas: tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Ia seakan menggambarkan betapa kekuasaan punya potensi yang tinggi untuj merepresi dan membungkam apa saja, termasuk aktivitas tertawa.

Dari adegan-adegannya, apalagi. Tak terhitung berapa kutipan yang menjadi kritik atas kondisi ketidakidealan dan ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat. Dari sekadar “Jangkrik, Bos!” sampai “Anak orang kaya memang begitu, lagunya suka tengil, kayak duit bapaknya halal aja.”

Warkop menjadi bukti yang bagus betapa kritik dan humor adalah dua saudara kandung yang susah untuk dipisahkan.

Humor memang seharusnya bukan hanya membuat orang tertawa, namun juga membuat orang berpikir, dan akan lebih sempurna lagi jika ia membuat orang bertindak. Dan Dono, dengan dan tanpa embel-embel Warkop, mampu mewujudkan itu.

Dono seakan membawa pesan, bahwa orang yang lucu, seharusnya selangkah lebih dekat menjadi seorang aktivis, bukan pelawak.

Yah, walau sekali lagi, Dono menempuh jalan sebaliknya.