Beberapa waktu yang lewat, kawan saya, Mas Fajar Pramono mendapat promosi jabatan. Kiprahnya yang mumpuni sebagai pemimpin Cabang BRI Katamso di Yogyakarta membikin dia dipromosikan menjadi Wakil Pemimpin Wilayah Bidang Bisnis di BRI Palembang.

Rupa-rupanya, ia adalah pemimpin yang cukup diidolakan oleh kawan-kawan dan juga bawahannya. Tak heran, saat ia mendapat promosi jabatan dan harus berpindah kantor di seberang pulau, kawan-kawan dan bawahannya membikinkan dia sebuah acara pelepasan khusus.

Karena Mas Fajar dikenal sebagai pribadi yang sangat menyukai sastra, maka konsep acara pelepasan dia pun dibikin dengan tema musik dan puisi. Sungguh sebuah acara yang zalim, di mana sebuah BUMN Perbankan tapi malah menggarap acara bertema sastra yang tentu saja itu adalah lahannya BUMN lainnya: Balai Pustaka. Ah, bisnis memang keras.

Nah, saya, tanpa diduga, ternyata diminta panitia untuk ikut mengisi acara tersebut. Saya mendapat tugas untuk ikut membacakan dua buah puisi karya Sapardi Djoko Damono.

“Mas Agus, Pak Fajar itu suka sama tulisan-tulisan Mas Agus, mangkanya kami pengin Mas Agus ikut meramaikan acara pelepasannya Pak Fajar, kami pengin ngasih kejutan buat Pak Fajar,” kata Candra, salah satu panitia yang mengurus acara pelepasan tersebut. “Nanti Mas Agus baca puisi. Cuma sepuluh menit saja, kok.”

Saya tentu saja agak takut. Lha gimana, saya ini blas nggak ada tampang-tampang sastrawan, nggak pernah berpuisi, mentok cuma bisa berpantun, itu pun pantun khas “masak aer biar mateng”, lha kok ujug-ujug saya disuruh baca puisi. Itu pun puisinya eyang Sapardi. Dan yang lebih bikin jiper lagi, selain saya, sosok lain yang juga disuruh baca puisi adalah Brian vokalisnya Jikustik. Lha pasti saya bakal kebanting.

Singkat cerita, setelah nyang-nyangan dengan cukup alot, termasuk dengan mempertimbangkan ketahanan pangan dan ekonomi, saya akhirnya bersedia.

Saya membaca dua puisinya Sapardi yang berjudul “Pintu” dan “Tentang Tuhan”. Tentu saja saya membacanya dengan pembacaan yang sangat tidak puitik. Tapi nggak papa, kalau saya baca puisi dengan sangat baik, nanti saya dianggap merebut lahannya para sastrawan dong. Apa bedanya saya sama BRI yang merebut lahannya Balai Pustaka?

Acara berlangsung lancar, meriah, dan haru. Semua peserta melepas Mas Fajar dengan bernyanyi dan diakhiri dengan penyerahan kado untuk Mas Fajar.

Acara selesai pukul setengah dua belas malam. Begitu acara selesai, saya langsung pulang naik Gocar. Maklum, Jogja memang sedang musim hujan.

“Ini ramai-ramai ada acara apa, Mas?” tanya sopir Gocar yang mengantar saya.

“Oh, ini acara BRI, Mas.” Jawab saya dengan nada datar.

“Seminar, Mas?”

“Bukan. Pelepasan bos yang dapat promosi jabatan dan dipindah ke Palembang.” Saya memang agak capek, jadi saya agak kurang bersemangat untuk berbincang-bincang. Sedari awal, saya sudah meniatkan diri untuk tidur di mobil sepanjang perjalanan.

“Jadi Mas ini karyawan BRI?” tanya si sopir.

Sungguh pertanyaan yang agak menjengkelkan. Saya bingung cara menjelaskannya dengan jawaban yang singkat. Saya bingung bagaimana menjelaskan kepadanya bahwa saya bukan karyawan BRI, saya hanyalah penulis, dan kebetulan petinggi yang mendapat promosi jabatan itu suka baca tulisan-tulisan saya, trus sebagai bentuk kejutan, anak buahnya meminta saya untuk ikut mengisi acara, konsep acaranya musik dan seni, di sana saya disuruh baca puisi.

Ah, rasa-rasanya kok rumit sekali.

Dengan pertimbangan agar saya tidak perlu menjelaskan sesuatu yang berbelit-belit, saya akhirnya memutuskan untuk berdusta.

“Ya, Mas, saya karyawan BRI,” jawab saya.

Saya berharap, dengan jawaban itu, Mas sopir puas dan mengakhiri basa-basinya. Saya sangat suka basa-basi. Sangat suka mengobrol dengan sopir. Tapi tidak malam itu. Tubuh saya capek sekali.

Tapi dasar semesta, terkadang, ia suka memberikan kejutan pada kita.

“Alhamdulilllaaaaaah…” kata si sopir tampak sangat bahagia. Saya melirik, tampangnya begitu bersemangat begitu tahu bahwa penumpang yang duduk di sebelahnya adalah seorang karyawan BRI.

Saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak enak. Dan benar saja. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Mas Sopir adalah kalimat yang laksana peluru bagi saya.

“Kebetulan sekali, Mas. Saya pengin nanya-nanya soal proses pengajuan KUR.”

Modiaaaaaaar.

Tujuan saya mengaku sebagai karyawan BRI saya niatkan agar saya percakapan selesai. Tapi ternyata saya salah, pengakuan tersebut malah membuat saya pada percakapan yang semakin panjang.

Tidak mungkin saya bilang “Tadi itu saya bohong, Mas. Saya sebenarnya bukan karyawan BRI, saya hanyalah penulis, dan kebetulan petinggi yang mendapat promosi jabatan itu suka baca tulisan-tulisan saya, trus sebagai bentuk kejutan, anak buahnya meminta saya untuk ikut mengisi acara, konsep acaranya musik dan seni, di sana saya disuruh baca puisi..”

Tapi kan saya tengsin kalau begitu. Lagipula, saya tak tega jika harus membabat harapan Mas sopir yang entah kenapa tampangnya mendadak menjadi sangat cerah dan bersemangat sekali itu. 

Ah, brengsek betul.

Pada akhirnya, saya kemudian melayani pertanyaan-pertanyaan Mas Sopir. Tentu saja saya menjawab dengan jawaban-jawaban normatif. Jawaban yang saya dapat dari hasil curi-curi googling sambil pura-pura twitteran.

Beruntung, jawaban-jawaban contekan saya ternyata cukup memuaskan dia.

Percakapan soal KUR tersebut kemudian menjadi sangat panjang, sebab Mas Sopir bukan hanya bertanya soal KUR, namun juga tips-tips agar lolos BI checking, sampai tips-tips berhubungan dengan leasing.

Duh Gusti. Perjalanan malam itu benar-benar membuat saya belajar. Betapa memilih sebuah pilihan agar terhindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan justru bisa memuluskan jalan kita pada sesuatu yang tidak kita inginkan tersebut.

Ah, biasanya orang ngeprank ojol, lha ini kok malah saya yang kelihatannya jadi “korban” prank.

Hae modyar aku, hae modyar aku.