• 11
    Shares

Pelajaran hidup tentu bisa didapatkan tidak melulu dari seorang guru. Ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik justru dari hal-hal yang sederhana.

Salah satu yang kerap tak terduga tentu saja adalah tulisan di bokong truk. Ya, kita semua yang akrab dengan jalanan pantura tentu sudah tak kaget lagi dengan aneka kata kutipan penuh mutiara hikmah yang terpatri pada bokong-bokong truk langsiran yang seringkali mampu memancing senyum dan tak jarang membikin kita merenung.

Bokong truk bisa mengajari banyak hal lewat kutipan-kutipannya. Ia mampu memberikan pelajaran tentang bagaimana mengubah sebuah ironi yang menyedihkan menjadi tampak begitu menyenangkan.

“Lorena, Lonte Kere Merana.”

Kutipan tersebut, sungguhpun menyimpan satu ironi yang menyedihkan, namun mampu diungkapkan dengan jenaka. Kisah tentang pelacur yang miskin dengan lika-liku hidup yang nestapa tentu saja bukan kisah khayalan. Ia ada. Ia nyata. Di balik kamar-kamar lokalisasi di berbagai kota, selalu ada perempuan menyedihkan yang terpaksa menjual tubuhnya demi menyambung hidup. Ia menjualnya pada lelaki-lelaki yang tak kalah menyedihkannya.

Kesedihan itu terpampang dengan jelas. Dan lihat bagaimana bokong truk menuliskannya dengan jenaka. Membuat perkara harga diri dan perkara nafkah itu menjadi perkara yang selayaknya ditertawakan saja. Sebab memang begitu cara terbaik untuk menghadapinya.

“Biar binal yang penting tak ternoda.”

Itu kutipan lain yang pernah saya baca saat melintas di ruas jalan Ring Road Selatan Jogja. Sebuah kutipan yang mengajarkan pada kita, bahwa manusia selalu punya sisi baik yang layak untuk dibanggakan.

Ia serupa dengan konsep yin dan yang.

Sebaik-baik orang, pasti ada niat jahatnya. Sejahat-jahatnya orang, pasti ada sisi baiknya. Lebih luas, ia mengajarkan pada kita bahwasanya menusia adalah makhluk yang penuh dengan perubahan.

Nah, salah satu pelajaran hidup yang sungguh saya ingat dari kutipan bokong truk tentu saja adalah pelajaran hidup tentang ilmu ikhlas dalam asmara.

Satu kutipan yang paling saya ingat dan cukup populer tentang pelajaran hidup yang satu ini tentu saja adalah “Ra keno perawane, tak enteni rondone.”

Rasa-rasanya, inilah ungkapan perasaan seorang lelaki yang begitu mencintai perempuannnya. Bahkan saat si perempuan kemudian harus jatuh ke tangan lelaki lain.

Si lelaki masih mau menerima, sungguhpun ia harus menjadi lelaki lain dulu. Rasanya ini adalah bentuk ketabahan dan keikhlasan yang luar biasa.

Kutipan lain yang lebih menggambarkan keikhlasan adalah kutipan yang satu ini: “Sing penting kowe bahagia ndisik, aku gampang.”

Ini kutipan yang begitu dalam. Betapa dalam asmara, salah satu pencapaian yang tinggi dalam cinta adalah melihat dia bahagia. Tak peduli ia bahagiannya dengan lelaki lain.

Nah, yang kutipan yang paling dahsyat tentang pelajaran keikhlasan cinta adalah sebuah kutipan di bokong truk yang saya lihat saat saya melaju di jalan Magelang-Jogja tahun lalu.

“Nek meh selingkuh ngomong, mengko tak sangoni.”

Ia mengajarkan pada kita, bahwa puncak keikhlasan cinta adalah rela disakiti.