Warga, pejabat, dan juga media di Indonesia agaknya memang punya bakat terpendam untuk menjadi detektif jempolan. Mereka punya jiwa yang militan dalam mengorek sesuatu sampai ke urat-uratnya.

Bukti paling nyata bakat detektif ini bisa dilihat dari perkembangan kasus dua pasien positif corona di Depok. Tak butuh waktu yang lama bagi orang-orang untuk bisa segera tahu siapa pasien positif corona tersebut, di mana alamat tinggalnya, sampai berapa nomor rumahnya.

Pemberitaan tentang si pasien langsung menjadi berita utama di berbagai media. Rumah si pasien langsung dipasangi garis polisi. Lingkungan di perumahan pasien juga langsung disemproti disinfektan oleh pihak kepolisian.

Tak bisa tidak, pastilah si pasien mendapatkan tekanan batin yang maha dahsyat. Tekanan batin yang tentu saja sangat menyiksa dirinya.

“Saya stres. Konon beritanya heboh, rumah saya diberi police line, disemprot disinfektan, saya diisolasi, tetapi tidak diberi tahu secara resmi,” terang pasien ketika diwawancarai Kompas melalui sambungan telepon. “Saya tertekan walau bukan karena sakitnya. (Saya) sampai sekarang baik-baik saja, buktinya bisa teleponan walau masih batuk-batuk kecil. Saya tertekan karena pemberitaan yang menstigma saya dan anak saya. Kasihan, kan, foto-fotonya diekspos kayak gitu. Ini, kan, bikin heboh.”

Saya sangat paham bagaimana rasanya benar-benar diasingkan dan distigma karena mengidap satu penyakit.

Saya pernah merasakannya, Walau tentu saja, dalam tingkat yang jauh lebih kecil, dan dengan penyakit yang jauh lebih receh: gondongan.

Ada banyak jenis penyakit yang pernah tercatat dalam sejarah dunia kedokteran. Namun, hanya sedikit yang efeknya bisa sampai mengubah tata letak wajah. Dari jumlah yang sedikit itu, gondongan adalah salah satunya.

Gondongan, yang dalam bahasa medisnya disebut sebagai parotitis ini adalah penyakit yang menyebabkan kelenjar parotid (kelenjar yang memproduksi air liur) mengalami pembengkakan karena infeksi virus. Kelenjar ini terletak tepat di bawah telinga di samping wajah. Oleh sebab itulah orang yang mengalami gondongan, bagian sisi wajahnya, terutama di bagian atas leher dan di bawah pipi, akan terlihat membesar. Persis seperti musuh utama Stephen Chow yang pakai jurus katak di film Kungfu Hustle itu.

Konon katanya, sampai saat ini belum ada obat yang diklaim secara pasti bisa mengobati penyakit gondongan ini. Namun, penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya hanya dengan istirahat yang cukup, sebab proses penyembuhan pada penyakit gondongan ini adalah melalui pemulihan sistem kekebalan tubuh.

Saat SD, saya pernah terkena penyakit ini. Pipi bagian bawah saya membesar. Rasanya agak ngilu. Wajah saya yang dengan tata letak terbaik saja sudah tidak impresif langsung menjadi semakin kacau.

Saya seharusnya tidak perlu masuk sekolah, sebab kalau memang ingin sembuh, saya harus istirahat di rumah selama beberapa hari.

Namun karena saya adalah tipikal anak muda yang sangat haus akan uang saku ilmu, saya tak bisa membiarkan diri saya untuk tidak masuk sekolah hanya karena penyakit yang saya anggap receh ini. Maka, jadilah saya tetap berangkat ke sekolah.

Demi melihat pipi bagian bawah saya yang kembung, kawan-kawan saya banyak yang menertawakan saya. Ini cobaan pertama saya. Beberapa kawan yang keterlaluan bahkan sampai mencolek pipi saya, untuk mengetes kepadatannya. “Cuma pengin ngetes, isinya air apa angin,” ujarnya. Bangsat.

Tapi tak apa. Wong saya sendiri sebelum berangkat sekolah, pas ngaca di depan cermin, saya juga merasa geli sama wajah saya sendiri, apalagi kawan-kawan saya. Mereka tentulah punya hak yang lebih besar untuk geli.

Saat jam pelajaran dimulai, guru saya langsung ngeh dengan tampang saya yang agak berbeda.

“Agus, pipimu melendung begitu, kenapa?”

“Saya kena gondongan, Bu,” jawab saya.

Mendengar jawaban tersebut, tampak jelas bahwa raut muka ibu guru saya itu berubah. Adegan berikutnya, adalah adegan yang bagi saya serupa palu godam yang menghantam dada saya.

Guru saya yang posisi sebelumnya sedang menulis di papan tulis, kemudian kembali ke mejanya, sejurus kemudian, ia berkata dengan entengnya, “Gondangan itu menular, yang lain, hati-hati kalau dekat Agus ya.”

Mendengar apa kata Ibu guru, seluruh kawan yang duduknya berada di sebelah, depan, belakang, dan samping saya langsung menyingkirkan kursinya menjauhi saya. Mereka langsung menjauh secara sistematis.

Kawan-kawan saya takut tertular. Saya yang tadinya tak paham bahwa gondongan ini menular langsung merasa syok. Tapi jauh lebih syok karena pengucilan dari kawan-kawan saya.

Posisi kursi saya yang memang berada di tengah membuat upaya pengucilan saya semakin sempurna saja. Saya bagaikan magnet dan kawan-kawan saya bagaikan magnet lain dengan kutub yang menolak. Saya bagaikan kakbah yang berada di tengah dengan kawan-kawan saya sebagai jamaah haji yang mengelilingi saya. Bedanya, mereka tak mau berebut menciumi dan menyentuh saya.

Saya menghabiskan sisa waktu belajar di kelas dengan kondisi yang paling menyakitkan. Ingin rasanya menangis, tapi itu akan semakin membuat saya semakin nelangsa.

Waktu istirahat adalah siksaan lain yang tak kalah menghancurkan diri saya. Bayangkan, saat berjalan ke kantin, kawan-kawan saya yang sedang berdiri di lorong secara otomatis langsung membuka jalan dan menjaga jarak dari saya. Mereka laksana air laut merah yang dibelah oleh tongkat Nabi Musa.

Ada sejumput amarah yang timbul dalam diri saya kepada ibu guru, kenapa harus mengatakan hal yang demikian tadi. Walau belakangan, apa yang ia katakan memang benar adanya, tapi tetap saja itu adalah siksaan yang berat bagi saya.

Menghabiskan enam jam dalam pengasingan yang sama sekali tidak heroik dan cenderung menyebalkan. Saya akan terus mengingat hari itu sebagai salah satu hari terburuk dalam sejarah pendidikan dasar saya.

Maka, ketika saya membaca wawancara Kompas dengan pasien positif corona, saya merasa seperti ada diri saya di sana.

Saya berdoa dan berharap, pasien segera sembuh dan hari-harinya yang menyakitkan itu segera berlalu.