MOJOK.CONama-nama kampung atau daerah bisa bikin ketawa yang mendengar, tapi bikin merah kuping warganya. Warga Kecamatan Bokan Kepulauan (Banggai Laut, Sulawesi Tengah) yang sering disingkat jadi Kecamatan Bokep pasti sangat setuju dengan tulisan ini.

Beberapa waktu yang lewat, saya makan di sebuah warung makan di depan kantor kepala desa di Blora. Konon kantor kepala desa ini sempat viral, sebab memang nama desanya adalah Tutup sehingga ketika dibikin tulisan penanda, jadinya lucu: “Kantor Kepala Desa Tutup”

kepala desa tutup

Kondisi tersebut kemudian menjadi bahan guyonan. “Inilah kantor kepala desa yang nggak pernah buka.” Atau “Kantor lain jam 10 sudah pada buka, tapi kantor kepala desa ini masih saja tutup.”

Karena hal itulah, pihak desa kemudian mengakali tulisan penanda kantornya menjadi “Kantor Kepala Desa Desa Tutup.”

Secara kaidah bahasa, itu adalah bentuk redundansi. Kesia-siaan yang tak perlu. Kalau sudah ada kantor kepala desa, tak perlu lagi ditambahkan “desa”.

Tapi ya gimana. Langkah itu harus diambil semata agar kantor tersebut tak lagi menjadi guyonan.

Saya pikir, hal ini terjadi juga di banyak tempat.

Kalau kalian pernah menonton film Warkop yang “Manusia Enam Juta Dolar”, kalian mungkin sempat tertawa geli dengan nama salah satu daerah dalam di film tersebut, yakni Gang Mayit, Kampung Kurus.

Kita bisa langsung tertawa bahkan hanya dengan tahu nama gang atau nama kampung yang terlihat aneh dan tiada lazim.

Saya sendiri juga pernah mengalami dilema soal nama daerah ini. Nama kampung saya memang agak tiada lazim: Seneng. Ya, seneng. Yang bahasa Indonesianya artinya bahagia.

Mangkanya kalau saya ditanya, dari kampung mana, saya agak kagok. Soalnya begitu saya jawab nama kampung saya, orang yang nanya sering kali malah reseh. “Aku nanya kampung kamu, bukan perasaan kamu.” Atau “Wah, enak ya kampung kamu, mau kena longsor atau kena wabah wereng, tetep saja seneng.”

Lebih ndlogok lagi sebab nama desa saya adalah Banyurojo. Banyu artinya ‘air’, rojo artinya ‘raja’.

Kalau disebut lengkap, jadinya Seneng Banyurojo.

Itulah sebabnya nama tim sepak bola kampung saya di jaman kecil dulu adalah Hawaki, yang mana merupakan singkatan dari Happy Water King alias Seneng Banyurojo.

Nama yang kemudian sering membuat lawan kami saat bertanding selalu tertawa terpingkal-pingkal.

Nah, yang paling nggapleki tentu saja yang satu ini.

Di daerah saya, ada desa namanya “Setan”, konon, Setan di sini dibaca seperti kata ketan atau segan. Kalau diucapkan sih tidak aneh. Tapi kalau ditulis, ya pasti bakal merujuk ke setan (dengan e seperti membaca kata lele).

Mangkanya dulu pas foto plang SD kampung tersebut tersebar, “SD Negeri Setan”, langsung saja muncul berbagai guyonan.

“Pantes saja setan sekarang pinter-pinter, ternyata ada sekolahnya!”

Lak yo asuuuu….

Dengan berbagai kisah ndlogok soal nama kampung ini, sampai sekarang saya merasa, betapa tabah dan besarnya hati warga desa “Cawet” (alias celana dalam) di Kecamatan Watukumpul, Pemalang sana.

Nggak kebayang mereka kalau ditanya tempat tinggal.

“Kamu tinggal di mana?”

“Di Cawet.”

“Aku nanya kamu, bukan kontolmu.”

BACA JUGA Pergantian Nama Daerah di Indonesia Nggak Sesimpel Ganti Nama Facebook atau esai AGUS MULYADI lainnya.

Baca juga:  Di Magelang, Bapak Saya Jauh Lebih Populer dari Saya