MOJOK.COTak adanya konser dangdut koplo merupakan sebuah hantaman keras bagi para penikmatnya

Tak banyak industri yang bisa bertahan lama di tengah pergolakan dan persaingan ekonomi yang kian hari semakin keras saja. Dari sekian yang tak banyak itu, industri “dangdut koplo” adalah satunya.

Dangdut koplo adalah industri yang strategis dan padat karya. Banyak elemen yang terlibat di dalamnya. Industri ini, membuka kemungkinan sebuah skema bisnis di mana para pelaku langsungnya tak ada yang merugi.

Saya kasih gambaran. Ada anak dari keluarga kaya yang menikah. Karena bapaknya adalah juragan besar, maka ia pun menanggap orkes dangdut koplo kenamaan. Maklum, ini urusan gengsi. Nggak boleh kalau cuma orkes kecil-kecilan. Saat konser dangdut koplo berlangsung, tukang video shooting (non label) yang sudah dibayar oleh si penanggap sekalian mengambil video konser. Kalau videonya sudah selesai, nanti hasil videonya diedit dan diupload di Youtube dan bakal menghasilkan uang.

Bayangkan. Keluarga manten bahagia karena bisa menanggap grup orkes besar dan gangsinya juga terjaga, grup orkes dan biduannya bahagia karena ditanggap dan mendapatkan promosi gratis dari video yang diambil oleh si tukang shooting, tukang shootingnya juga dapat penghasilan baik dari penanggap maupun duit dari penghasilan adsense, warga bahagia karena dapat hiburan gratis, para pedagang laris. Penonton video di Youtube terhibur. Bayangkan. Tak ada yang rugi.

Mungkin karena hal ini pulalah perputaran bisnis dangdut koplo senantiasa terjaga. Selain itu, tak bisa dimungkiri juga bahwa dangdut memang menjadi bagian hidup banyak masyarakat. Ia menjadi sarana eskapis yang paling manjur. Mau duit seret, uang kontrakan belum dibayar, mertua ngomel melulu, asal ada dangdut koplo, niscaya semua masalah serasa hilang, setidaknya untuk sementara.

Baca juga:  Penanganan Corona Masih Terlalu Maskulin

Namun di masa pandemi seperti sekarang ini, bisnis dangdut koplo benar-benar tumbang. Orkes-orkes sepi atau bahkan benar-benar nol tanggapan.

Lha gimana, di masa seperti ini, tak ada orang yang menikah dan nekat menanggap orkes dangdut koplo yang pasti bakal mengundang banyak massa. Nikahnya ya sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Kalau nekat mengadakan orkes, bukannya digerudug pasukan joget, malah digerudug aparat dan dinas kesehatan setempat.

“Virus corona bukan hanya bikin sakit organ tubuh, tapi juga organ tunggal beserta biduan dan segenap personel orkesnya,” begitu kata Gus Yusuf, pengasuh pondok pesantren API Tegalrejo.

Saya pikir absennya konser dangdut koplo ini menjadi sebuah tantangan tersendiri, utamanya bagi para penikmat dangdut koplo. Tak adanya konser koplo dalam beberapa bulan terakhir telah benar-benar menghantam salah satu bagian hidup.

Bagi orang yang sudah terbiasa menonton konser dangdut koplo, berjoget di depan panggung sembari menyaksikan secara langsung personel orkes memainkan alat musik dan biduan yang berjoget sembari bernyanyi sambil sesekali menggoda penontonnya adalah hal yang susah digantikan.

Ia, selayaknya konser-konser lainnya adalah konser yang akan sangat berbeda ketika didengarkan hanya melalui ponsel atau laptop. Aneka konser online maupun tayangan di Youtube tak akan bisa menggantikan konser dangdut koplo secara langsung.

Rasanya begitu aneh tak bisa menyaksian Ratna Antika yang walau petakilan dan kakehan polah tapi vokalnya tetap mumpuni itu. Tak bisa menyaksikan Sodiq yang petikan gitarnya sebenarnya biasa saja namun tetap bisa membius para penonton itu. Tak bisa mendengarkan secara langsung suara empuk Anjar Agustin yang seraknya bikin nagih itu. Tak bisa menyaksikan personel bagian icik-icik dan simbal yang sering kali jogetnya lebih heboh ketimbang biduannya itu.

Baca juga:  Klaim Konyol Kalung Anti-Corona dari Peneliti Gatal Publikasi dan Media yang Tak Peduli

Rasanya aneh tak bisa berjoget sambil sesekali bersenggolan dengan orang dari kampung sebelah. Rasanya aneh tak bisa saling meminjam bara api rokok kepada orang di sebelah yang sedang asyik berjoget sembari mengapir rokok di jarinya. Rasanya aneh tak bisa mundur sejenak dari depan panggung setelah cukup lama berjoget untuk kemudian jajan cilok dan minum es teh plastikan.

Atau bahkan pada titik yang paling kacau, rasanya aneh tak bisa lagi menyaksikan orang saling baku hantam di depan panggung hanya karena saling senggol untuk kemudian dilerai oleh petugas keamanan dan lagu dilanjutkan kembali setelah MC berteriak “Mau lanjut njogetnya apa lanjut tawurnyaaaa?”

Ah, benar apa kata Wak Haji. Kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan konser dangdut koplo yang sudah sekian lama tak muncul bisa kembali menggeliat.

Ing Ngarsa sung Wiwik Sagita, Ing Madya mangun Ratna Antika, Tut Wuri Rena KDI