Kemarin malam, bersama dua orang kawan, saya ngobrol banyak hal tentang dinamika rumah tangga. Kawan saya yang satu, sebut saya Petet, sudah menikah enam tahun dan punya satu anak. Sedangkan kawan saya yang lain, sebut saja Sodom, belum menikah namun sedang mempersiapkan lamaran bulan depan. Saya sendiri, seperti yang sudah saya tulis di beberapa tulisan saya sebelumnya, adalah pengantin baru yang masih hangat, masih ngreyen, saya baru saja menikah dua bulan lalu.

Tiga lelaki dengan nasib pernikahan (yang satu masih “calon pernikahan”, ding) yang berbeda tentu saja bakal menyenangkan kalau ngobrol tentang dunia rumah tangga.

Obrolan kami tentang rumah tangga mengerucut pada beberapa kesimpulan tak tertulis, bahwa menikah membuat hidup kita menjadi pribadi yang sangat berbeda. Pribadi yang penuh pemakluman.

“Dulu temanku pernah berkata,” kata Petet, “Bahwa pernikahan adalah fase titik balik, di mana pesan singkat yang tadinya penuh dengan kata-kata, menjadi penuh dengan angka-angka.”

“Maksudnya gimana?” Tanya saya.

“Iya, yang tadinya kata-kata jadi penuh angka-angka. Dulu semasa pacaran, kalau kirim pesan, biasanya ya sudah makan apa belum? gimana kabarnya? Mau nonton nggak? Dan sebagainya. Pesan yang semuanya kata-kata. Tapi setelah menikah, isi pesan adalah tagihan listrik, uang jajan anak, uang sekolah, dan yang lain-lain. Pesan yang semuanya didominasi angka-angka.”

Jancoooook.

Jawaban Petet memang terasa getir, tapi toh memang begitu adanya. Saya, yang baru menikah dua bulan, sudah mulai merasakan fase itu. Pesan whatsapp dari istri saya juga perlahan mulai penuh dengan angka-angka.

Saya dan Petet juga sampai pada kesepakatan yang lain, bahwa menikah, walaupun itu membahagiakan, tapi juga mengurangi ruang gerak kehidupan. Dan memang, itulah konsekuensi yang harus ditanggung atas imbalan kebahagiaan yang sudah kita dapat.

Saya jadi ingat dengan apa kata kawan saya yang lain, sebut saja Irpan Aleppo. Seorang kawan yang saya segan menyebutnya kawan sebab saking tingginya ilmu yang dia punya, hal yang seharusnya membuat saya sadar diri untuk tidak menyebutnya “kawan saya”, melainkan “guru saya”.

Menikah, kata Irpan, adalah pintu gerbang menunju keterbelengguan. Sangat filosofis, tapi memang begitu kenyataannya. 

Pendapat Irpan saya pikir berkorelasi dengan apa yang dikatakan oleh Petet, betapa dalam menikah, tidak semua hal bisa dipertemukan.

“Bullshit kalau orang-orang bilang bahwa menikah itu saling melengkapi. Ada banyak hal yang jangankan untuk dilengkapi, untuk sekadar diisi saja tidak bisa. Aku, misalnya, tidak terlalu pandai mengelola keuangan. Tapi istriku, jauh lebih tidak bisa. Ha modiar ora?”

Menikah itu, kata Petet, kalau ada persamaan kadang gawat, tapi kalau ada perbedaan, justru bisa lebih gawat. Menerima perbedaan dalam diri masing-masing itu susahnya minta ampun.

“Kalau kamu, apa perbedaan mendasar yang terjadi padamu setelah menikah?” Tanya Petet.

“Wah, kalau itu yo banyak. Tapi jujur, aku merasa, semua perbedaan yang terjadi dalam rumah tanggaku itu kalau tidak disikapi dengan bijak, mau sekecil apa pun perbedaannya, bakal bisa bikin runyam.”

“Misalnya?”

“Yang paling sederhana, ya. Aku sama istriku itu punya perbedaan pandangan dalam memandang sebuah kota. Aku kalau ada undangan ngisi acara di luar kota, hal yang bakal aku pikirkan adalah ada tempat wisata apa di kota tersebut. Lha tapi istriku beda. Dia kan NU tulen, jadi dia pasti mikir, makam siapa yang bisa dikunjungi. Lha modiar ora? Aku itu cari hiburan, sedangkan istriku carinya makam. Yang dipikir sama dia itu cuma ziarah, ziarah, dan ziarah.”

Betet tertawa mendengar penjelasan saya soal perbedaan itu.

“Tapi aku nggak bisa melarang, sebab itu Sudah menjadi kontrak awalku dulu sebelum menikah. Ia meminta agar sebagai suami, aku nggak boleh melarang dia kalau dia kangen sama guru-gurunya. Ya dia kan menganggap ulama-ulama dan kiai-kiai yang sudah wafat itu sebagai gurunya. Ya mau bagaimana lagi.”

“Lha kamu masih mending, itu perbedaan yang masih cukup prinsipil. Lha aku, bayangkan ya, aku itu tipikal orang yang kalau naruh kasur dan dipan, harus di pojok, biar ada tempat kalau buat senderan, juga biar aku nggak jatuh kalau tidur. Tapi istriku, punya prinsip kalau menaruh kasur harus di tengah. Harus ada ruang di kiri dan kanan kasur.”

“Itu juga masih mending. Di rumah, aku itu hobi menutup pintu. Jadi aku nggak suka kalau ruang tamu di rumah itu pintunya terbuka padahal nggak ada orang di ruang tamu. Soalnya dulu keluargaku pernah kehilangan hape gara-hara pintu rumah terbuka. Sedangkan istriku suka sekali membuka semua pintu. Pokoknya semua pintu, baik pintu depan, pintu samping, sampai pintu belakang, harus dibuka. Alasannya biar sirkulasi udara bisa masuk. Dia nggak mikir apa, kalau maling itu juga punya sifat seperti udara.”

Kali ini, entah kenapa justru saya yang tertawa.

Ya Tuhan, rumah tangga ternyata selucu ini. Sembari tertawa, saya melirik Sodom. Tampak sekali di wajahnya, gurat-gurat keraguan.