• 632
    Shares

Di tengah euforia konser Guns N’ Roses bertajuk “Not in This Lifetime” di Stadion Gelora Bung Karno pada Kamis malam, 8 November 2018 kemarin, mendadak, muncul twit yang ngaudubillah setan lucunya dari Sandiaga Uno.

Ia memposting foto dirinya dengan busana rock semi-memble, dengan kerah baju yang tak dilipat seperti seorang Cantona, dengan perpaduan gitar genjreng yang terasa sangat musisi. Ia pasang fotonya bersebalahan dengan gitaris kribo Guns N’ Roses, Slash.

Caption yang ia bikin sungguh mampu membuat orang paling patah hati pun pasti akan tertawa dibuatnya: “Apa perlu saya yang gantikan Slash di konser GnR nanti malam?”

Melihat postingan twit tersebut, sungguh, hati saya begitu adem, ceria, dan tentu saja langsung membatin soal Sandiaga, kok ada ya calon wakil presiden yang begini. Lucu dan menggelikan.

Maklum saja, saya melihatnya bukan sebagai seorang gitaris yang pantas menggantikan Slash, sebab, dengan pakaiannya yang sangat dramatis, ia jauh lebih cocok menggantikan Rama Aiphama.

Tapi, Sandi agaknya memang menginginkan hal itu. Ia memang ingin memancing tawa dari segenap orang-orang yang melihatnya.

Ini tentu saja bukan aksi pertamanya.

Jauh sebelum ia tampil sebagai kandidat “supersub”-nya Slash, ia lebih dulu tampil sebagai pendekar jurus bangau. Dengan tangan khas bangaunya, sambil berjinjit di atas satu kaki, ia tampil sebagai seorang politisi merangkap pendeka Wing Chun.

Aksinya mempraktikkan jurus bangau itu langsung memancing tawa dari banyak orang, baik kalangan pendekar maupun yang tidak.

Aksi lucunya kemudian berlanjut saat ia membuat pernyataan tentang tempe yang setipis kartu ATM. Pernyataan yang tentu saja sekali lagi, memancing tawa dari banyak orang, baik yang doyan tempe, maupun yang tidak.

Entah kenapa, di tangan Sandiaga, tempe menjadi begitu imajinatif. Di tangan Sandiaga, tempe tak ubahnya seperti karya seni kontemporer yang dinamis.

Kelucuan berikutnya tentu saja adalah ketika ia blusukan ke pasar dan kemudian memakai petai sebagai wig. Tampang Sandi yang rupawan itu kemudian berubah menjadi bak Carlos Valderama dengan rambut petai yang kriwil dan menggoda.

Fotonya saat memakai wig petai beredar luas. Dan lagi-lagi, susah untuk tidak tertawa melihat bagaimana seorang Sandi, dengan ekspresi wajah yang begitu lugu dan jenaka, mengenakan wig petai, sembari berjongkok berdialog dengan ibu-ibu penjual sayuran di depannya.

Andai saya yang jadi ibu-ibu penjual sayur yang berdialog dengannya, sungguh, saya saya sudah pasti akan merasa sakit yang teramat sangat di bagian perut sebab saya harus menahan tawa yang sedemikian besar meletup-letup.

Pada titik tertentu, saya merasa, Sandiaga adalah politisi jenius merangkap pelawak ulung. Sebagai seorang entertainer, mutunya terjamin. Pelawak lain butuh banyak materi untuk membuat orang tertawa, sedangkan Sandiaga cuma butuh bangau, cabai, dan tempe.

Hanya Sandiaga yang mampu membuat dunia pertempean mengalami mutasi genetis yang luar biasa. Ia bisa menjadikan tempe setipis kartu ATM. Bukan tak mungkin, di masa depan, Sandiaga pula yang bisa membuat tempe setipis kertas HVS, atau bahkan setipis jembatan Shirathal Mustaqim.

Hanya Sandiaga yang bisa mengubah citra jurus bangau yang hebat dan mematikan menjadi sebuah gerakan ikonik yang cubby dan ciwel-able.

Jangan-jangan, kelucuan-keluacuan Sandiaga memang sebuah pertanda serius bagi kita, bahwa inilah saatnya untuk memberikan ruang pada calon pemimpin dengan citra lucu dan jenaka. Citra yang selama ini hampir tidak pernah dilirik oleh banyak calon pemimpin.

Kita sudah kenyang dengan citra presiden-calon wakil presiden yang tegas, militeristik, cerdas, merakyat, sederhana, dan citra-citra lain yang sudah sangat basi dalam kontestasi politik.

Mungkin inilah momen untuk Sandiaga. Momen untuk Indonesia yang lagi jenaka.

Mau harga pokok turun atau naik, mau dolar menguat atau melemah, mau kita banyak impor atau banyak ekspor, semuanya tak jadi soal kalau semua rakyatnya bergembira karena ulah lucu pemimpinnya.

Jokowi boleh saja “kerja, kerja, kerja”, tapi Sandiaga jauh lebih visioner, ia “tertawa, tertawa, tertawa.”