Saya pernah pengin banget nonton konser Cranberries di JavaRockinland beberapa tahun yang lewat. Tapi saat itu, saya putuskan nggak jadi nonton. Duitnya justru saya belikan komputer biar bisa saya pakai buat internetan di rumah. Pikir saya, nonton Cranberries bisa kapan-kapan.

Beberapa tahun kemudian, setelah saya sudah punya duit, Dolores O’Riordan si vokalis Cranberries ternyata meninggal.

Entah kenapa, ada penyesalan yang begitu besar saat mendengar kabar kematiannya. Penyesalan yang, kayak, punya uang berapa pun, saya tak akan pernah bisa nonton Dolores O’Riordan nyanyi.

Penyesalan itu kelak membuat saya untuk tumbuh menjadi seseorang yang hampir tak pernah berpikir panjang untuk menonton konser musisi-musisi favorit saya. Dan menonton konser Scorpions awal bulan lalu adalah salah satu bentuk penebusan saya atas penyesalan tersebut.

* * *

Tentu saja sudah sejak jauh hari saya merencanakan untuk menonton konser JogjaRockKarta 2020 ini. Konser yang menghadirkan Scorpions, band yang sudah sejak lama saya idolakan dan lagu-lagunya selalu saya masukkan dalam playlist winamp saat dulu masih jadi tukang jaga warnet.

Adalah adik emak saya yang mengenalkan saya pada Scorpions. Mbak Donah namanya. Sama seperti emak saya, Mbak Donah dulu juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Bedanya, Mbak Donah ikut majikan Cina kaya di Jakarta, sedangkan emak saya cuma jadi pembantu di kampung ikut keluarga tentara dengan pangkat yang nggak tinggi-tinggi amat. Astaga, bahkan pembantu pun ada hierarkinya begini ya.

Entah ada pengaruhnya secara langsung atau tidak, beda majikan ternyata berdampak pada selera musik kakak-beradik ini. Ketika selera musik emak mentok pada Rhoma Irama, Mbak Donah menjelajahi blantika musik dengan lebih luas. Lokal dan manca.

Setiap kali lebaran, Mbak Donah selalu pulang membawa oleh-oleh berupa susu Dancow (yang ada bonus komik cerita rakyat yg legendaris itu) dan kaset-kaset pita yang sering ia dengar di rumah Majikannya. Beberapa yang saya ingat di antaranya Dewa 19, Padi, Santana, Mega Divas (ada lagunya Anggun yg Snow on The Sahara itu), MLTR, sampai Scorpions. Selera musik yang menurut saya sangat adilihung untuk ukuran pembantu yang sehari-hari sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Salah satu kaset yang selalu menjadi langganan untuk dibawa dari Jakarta adalah Scorpions. Saya ingat betul beberapa album yang pernah dibawa oleh Mbak Donah: Acoustica, Pure Instinc, dan sepasang album Scorpions Gold.

Praktis, Scorpions menjadi band yang sudah saya dengarkan sejak SD. Saya sering melantunkan lagu-lagunya, tentu saja walau dengan pengucapan bahasa inggris yang kacau dan salah kaprah.

Lirik lagu You And I yang “I lose control because of you, babe” itu saya lantunkan sebagai “Alus kontrol, tidak on yube”

Beberapa lagu Scorpions yang begitu saya suka di antaranya adalah White Dove, I wanted to cry (but the tears wouldn’t come), Life is to short, dan tentu saja, Send me an angel.

* * *

Scorpions pernah menggelar konser dua kali di Indonesia, yakni pada tahun 2001 dan 2004. Tapi tentu saja, dua konser itu mustahil saya datangi. Saya masih SD saat itu. Jangankan buat nonton konser, untuk naik angkot ke alun-alun kota saja, saya nggak berani.

Kelak, di tahun 2010, saat saya sudah lulus SMA dan sudah bekerja sebagai tukang jaga warnet, terdengar kabar yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Scorpions berencana akan bubar dan bakal menggelar konser perpisahan di Magelang, tepatnya di Borobudur.

Saya berusaha menabung dan berencana bakal menonton. Tapi dasar nasib, ternyata konser di Borobudur itu urung dilaksanakan.

Beberapa tahun kemudian, ketika saya bekerja sebagai layouter di sebuah agensi desain di Sukabumi, saya semakin sering mendengarkan Scorpions. Tak lain dan tak bukan karena bos saya saat itu ternyata juga fans berat Scorpions.

Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu sampai kemudian Scorpions benar-benar konser di Indonesia. Lebih menyenangkan lagi, di Jogja.

Ketika kabar bahwa Scorpions akan manggung di Jogja datang melalui sebuah poster yang mampir di sosial media, saya langsung girang bukan kepalang. Tak butuh waktu lama bagi saya meyakinkan diri bahwa saya harus menonton.

Seorang kawan baik yang tampaknya tahu kalau saya begitu menggemari band ini menawari saya tiket gratis. Saya menolak.

“Ini band yang aku idolakan sejak lama, dan boleh jadi, ini kesempatan terakhirku untuk menonton mereka. Akan sangat durhaka jika aku harus menonton bukan dengan tiket yang aku beli sendiri.”

Pada akhirnya, saya memesan sendiri tiket konser Scorpions itu. Sengaja saya membelinya dari uang hasil honor menulis.

* * *

Minggu, 1 Maret 2020 menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi saya. Scorpions tampil membawakan lagu-lagu populernya sambil sesekali mengenalkan lagu barunya yang belum banyak dikenal orang.

Wind of Change, Big City Night, Blackout, The Zoo, Send Me an Angel, Still Loving You, sampai tentu saja, Rock You Like a Hurricane, semuanya dibawakan dengan khidmat.

Klaus Meine si vokalis yang bahkan siulannya sanggup membikin orang-orang merinding itu tampil sangat lincah dan trengginas bak penari jathilan. Ia seakan lupa bahwa umurnya sudah sangat senja.

Rudolf Schenker yang tampangnya persis kayak om-om nakal di sinetron hikmah itu juga tak kalah lincah. Ia bahkan tampak lebih sering maju ke depan panggung ketimbang vokalisnya.

Matthias Jabs dan Pawel Maciwoda walau terlihat malu-malu namun tetap atraktif. Keduanya tak mau kalah dari Rudolf Schenker.

Sementara drummer Mikkey Dee yang baru jadi anggota Scorpions sejak beberapa tahun yang lalu juga tampil kesetanan. Ia tampaknya ingin menunjukkan bahwa dirinya tak kalah gentho ketimbang pendahulunya di Scorpions James Kottak.

Begitu girang dan sentimentilnya saya ketika pada akhirnya, saya benar-benar menyaksikan band idola saya itu tampil, di depan saya, tak sampai 20 meter jaraknya.

scorpions