Rubrik: Pojokan

Kelihatannya Memang Bukan Lagi Corona yang Saya Takuti Saat Ini

MOJOK.CODulu saya pernah begitu takut pada corona, namun tampaknya kini semuanya berubah.

Saya tak pernah menyangka bahwa saya, pada suatu masa, bisa menjalani laku kedisiplinan hidup yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Lebih dari dua bulan, dari akhir Maret, sampai akhir Juni, saya dan istri saya benar-benar nyaris menghabiskan seluruh waktu di rumah saja.

Kami benar-benar takut setengah mampus pada virus corona. Virus yang digadang-gadang, dan memang terbukti, mampu membunuh banyak orang dan bisa menular dengan sangat mudahnya itu.

Saat itu, kedisiplinan jenis itu memang merupakan kedisiplinan yang juga ditempuh oleh banyak orang. Warga di kampung tempat saya tinggal me-lockdown secara mandiri kampungnya dan benar-benar menolak warga pendatang. Salah satu putra tetangga saya yang datang dari luar kota bahkan sampai benar-benar diusir oleh warga dan diminta untuk tinggal di hotel.

Dari tujuh hari selama seminggu, hanya dua hari yang saya habiskan tidak di rumah. Itu pun karena saya harus kerja di kantor tak jauh dari rumah saya. Itu pun hanya beberapa jam. Itu pun dengan sistem shift dan satu meja hanya boleh untuk dua pekerja. Itu pun kemudian diliburkan hanya karena salah seorang karyawan sempat membeli terigu di salah toko yang disinyalir pemiliknya sempat digosipkan tertular corona.

Saya bahkan punya potensi untuk kembali menjadi gondes seperti di masa lalu karena saya sama sekali tak berani untuk pergi potong rambut.

Di rumah, saya nyaris tak pernah menerima tamu orang yang tak saya kenal. Saya tak salat jumat di Masjid. Saya rajin mencuci tangan saya. Segala usaha yang disarankan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga kompeten lainnya selalu saya usahakan agar bisa saya lakukan.

Saat lebaran, saya tak mudik ke Magelang, tentu saja.

Kedisiplinan tersebut tentu saya lakukan semata agar pandemi corona segera berakhir. Dengan begitu, saya bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Kembali menonton film di bioskop seminggu sekali, kembali menonton konser, kembali nongkrong di kedai kopi langganan saya, dan kembali-kembali yang lainnya.

Namun pada kenyataannya, apa yang saya harapkan ternyata tak terjadi. Pandemi masih terus ada dan bahkan semakin parah. Jumlah pasien positif corona bertambah semakin banyak. Jumlah korban meninggal pun demikian.

Pemerintah yang saya harapkan mampu tampil menjadi ujung tombak penanggulangan corona pada kenyataannya tak bisa diandalkan. Tentu saja itu bukan salah pemerintah. Itu murni salah saya yang berekspektasi terlalu tinggi kepada Pemerintah.

Saya benar-benar bodoh karena mempunyai pengharapan tinggi kepada pihak yang bahkan ketika negara lain sudah waspada pada corona mereka justru sedang merencanakan memberikan subsidi pariwisata agar orang-orang kembali piknik.

Saya benar-benar bodoh karena mempunyai pengharapan tinggi pada entitas yang walaupun sudah diberitahu oleh banyak ahli kesehatan tentang tidak efektifnya rapid test namun tetap bersikeras mempertahankan tes tersebut selama beberapa waktu karena sudah kadung membelinya dalam jumlah banyak.

Saya menyerah. Kedisiplinan saya tumbang.

Walau masih tetap bermasker, saya mulai berani bepergian dan mulai nongkrong di kafe atau kedai-kedai kopi. Saya mulai berani ke berkunjung ke banyak tempat. Saya sudah berani potong rambut. Berani berada di kerumunan. Saya bahkan mulai berani pulang ke Magelang.

Saya mulai abai pada protokol jaga jarak.

Dua minggu lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya akhirnya menonton kembali pertunjukkan live music band rock di sebuah bar yang dulu setiap minggu saya kunjungi.

Sepanjang perjalanan menuju bar itu, saya menyaksikan betapa orang-orang makan bergerombol bersama kawan-kawannya di warung-warung tenda. Mereka tertawa. Ngobrol seperti tak pernah ada makhluk bernama corona.

Saya pikir, mereka pasti juga sedang seperti saya. Mereka sedang menikmati masa-masa menyerah mereka.

Kini saya benar-benar sadar. Yang saya takuti bukan lagi corona. Yang saya takuti sekarang adalah saya dipergoki orang saat sedang nongkrong di luar, pas lepas masker, tanpa jaga jarak, dan kemudian dipotret lalu diupload di sosial media dan disandingkan dengan status atau twit yang pernah saya tulis tentang pentingnya memakai masker dan menjaga jarak.

Ketakutan saya kini benar-benar sudah berubah.

Redaktur Mojok. Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku.

Leave a Comment