• 387
    Shares

Selama dua hari terakhir ini, saya berada di tengah-tengah perkebunan sawit di daerah Pasar Sebelat, Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara, Bengkulu.

Di provinsi yang terkenal sebagai tempat kelahiran mendiang ibu negara Fatmawati ini, saya mengajar menulis untuk anak-anak di SD, SMP, dan SMA Tenera. Sebuah sekolah swasta terpadu yang dibangun untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak pekerja perkebunan sawit Pasar Sebelat.

Ini pengalaman pertama saya mengajar anak-anak di wilayah perkebunan sawit.

Di sekolah Tenera ini, para siswa berasal dari latar belakang daerah yang beragam. Maklum saja, orangtua mereka memang sebagian besar adalah para perantau yang menggantungkan peruntungan sebagai pekerja perkebunan sawit.

Ada anak-anak Jawa, Sunda, Batak, Palembang, dan beberapa yang lain. Diajak nyanyi lagu “Sayang opo kowe krungu” mereka bisa. Diajak nyanyi lagu “Makan daging anjing dengan sayur kol” mereka pun siap.

Ada sensasi menyenangkan dan mengharukan saat saya mengajar di sekolah tersebut.

Saya ingat, sesaat sebelum saya mulai mengajar anak-anak SMA, saya disambut oleh tarian daerah oleh para siswa. Saya juga dikalungi kalung bunga sebagai tanda penyambutan.

Hal tersebut juga terjadi saat saya mengajar anak-anak SD dan SMP.

Saya disambut dengan tari tor-tor dan diberi persembahan berupa hiasan bunga hasil karya para siswa. Tak cukup di situ, mereka juga mempersembahkan sebuah lagu untuk saya.

Sungguh, ini pengalaman pertama saya memberikan kelas menulis dengan penyambutan yang begitu mengharukan.

Satu yang paling saya ingat tentu saja adalah bagaimana cara mereka berdoa tiap sesi kelas selesai yang dipimpin oleh salah satu perwakilan siswa.

Di sesi kelas pertama, saya masih ingat samar-samar bagaimana doa mereka.

“Ya Allah, terima kasih hari ini engkau telah memberikan kami kesempatan untuk belajar. Dari awal, pertengahan, sampai kelas selesai. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan kepada kami melalui Kak Agus Mulyadi. Berikanlah rahmat, rejeki, dan usia yang panjang untuk Kak Agus Mulyadi. Ya Allah, semoga engkau tak pernah lelah memberikan kami berkah. Subhanakallahumma wabihamdika…”

Di sesi kedua, saya hampir tak bisa menahan air mata saya untuk keluar.

“Terima kasih Yesus, terima kasih bapa atas penyertaanmu. Terimakasih sudah menyertai kami belajar dari awal, pertengahan, sampai kelas selesai. Hari ini kami belajar banyak dari Kak Agus Mulyadi. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan. Jadikanlah kami menusia-manusia yang berilmu dan berguna. Kami manusia yang penuh dosa. Ampunilah dosa kami, dosa bapak Ibu guru kami, dosa Kakak Agus Mulyadi. Setelah ini, kami akan pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga kami. Sertailah perjalanan pulang kami. Dan berkahilah hidup kami. Di dalam nama Yesus kristus. Terima kasih, Bapa.”

Tepat saat perwakilan siswa membacakan doa tersebut, mata saya mulai berair.

Ingin rasanya saya membisiki anak-anak ini satu per satu: “Kalian hebat. Jangan jadi dewasa, mereka bangsat…”