• 569
    Shares

Ada sebuah ungkapan, bahwa seorang anak terhubung dengan ibunya melalui tali pusar saat masih berada di dalam kandungan, dan terhubung melalui lidah saat berada di luar kandungan.

Ungkapan ini menjelaskan betapa dalam urusan makanan, seorang anak cenderung selaras dengan ibunya. Seenak apa pun masakan yang pernah dirasakan oleh seorang anak, masakan terlezat dan ternikmat baginya tetaplah masakan ibunya sendiri.

Hampir semua anak pasti merasakan hal ini.

Food Network UK, sebuah media asal Inggris yang fokus pada bidang kuliner pernah mengadakan sebuah survei tentang hal ini. Survei dari Food Network UK ini menjelaskan bahwa pria punya kecenderungan lebih menyukai masakan ibu daripada masakan istri atau pacar mereka. Pada titik tertentu, bahkan sampai ditemukan banyak kasus lelaki kabur dan menyelinap diam-diam dari istri mereka hanya untuk pulang dan makan masakan ibunya.

Dalam sebuah dongeng Jepang, ada sebuah kisah jaman kerajaan tentang dua orang perempuan yang memperebutkan seorang anak. Dua orang perempuan ini mengaku sebagai ibu kandung satu anak yang sama.

Perempuan pertama adalah perempuan kaya raya bergelimang harta, sedangkan perempuan yang kedua adalah seorang miskin yang tak punya apa-apa (Dalam kisah tersebut, ibu kandung si anak adalah si perempuan yang miskin. Kemiskinannya itulah yang membuat ia terpaksa melepas si anaknya saat masih kecil untuk diasuh oleh perempuan pertama yang kaya raya tapi tak bisa punya anak).

Persengketaan tersebut kemudian sampai ke telinga raja. Dua perempuan dan si anak yang diperebutkan itu kemudian diminta menghadap. Dua perempuan itu sama-sama mengaku sebagai ibu kandung. Sedangkan si anak tak yakin, yang mana ibu kandungnya sebab ia tak pernah ingat jelas tentang masa kecilnya.

Raja akhirnya meminta kedua perempuan itu untuk memasak.

Si perempuan kaya memasak masakan yang sangat lengkap dengan aneka bumbu dan sayur yang mahal dan beraneka-rupa, sedangkan perempuan miskin hanya memasak sup sederhana.

Si anak disuruh untuk mencoba masakan keduanya. Saat mencoba masakan perempuan kaya yang mengasuhnya, ia sangat berselera, sebab masakan yang disajikan memang sangat lengkap. Ketika ia mulai mencicipinya, dia merasa rasa masakannya memang enak.

Kemudian, saat dirinya akan mencoba masakan di perempuan kaya, ia merasa tidak berselera sebab yang disajikan hanya sup sayur sederhana. Namun saat ia mencicipinya, ia merasakan satu hal yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ingatan kepekaan lidahnya langsung peka. Ia merasa, masakan sederhana si perempuan miskin tersebut begitu dekat dengannya.

Dari situ, raja langsung bisa menentukan, siapa ibu kandung si anak sebenarnya.

Nah, kisah di atas semakin menambah daftar panjang fenomena keterkaitan selera masakan anak terhadap masakan ibunya.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat seorang anak begitu menyukai masakan ibunya?

Banyak orang mengatakan hal tersebut adalah karena faktor emosi dan kedekatan batin. Jawaban tersebut tentu tak salah. Sebab bagi banyak orang, rasa masakan juga dipengaruhi oleh emosi dan perasaan si pemasaknya. Dua masakan, dengan takaran bumbu dan resep yang sama konon akan punya rasa yang berbeda jika yang satu dimasak dengan penuh cinta sedangkan yang satu dimasak dengan perasaan yang biasa saja.

Nah, usut punya usut, perkara ini ternyata juga bisa dijelaskan secara ilmiah. Menurut sebuah jurnal yang diterbitkan di Indiana Public Media, kecenderungan anak yang hampir selalu menyukai apa saja masakan ibunya merupakan faktor enzim amilase. Enzim ini berperan dalam mengkatalisis karbohidrat kompleks berupa amilum menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.

Tiap orang punya level amilase yang berbeda-beda. Perbedaan level amilase ini memberikan persepsi yang berbeda pada makanan yang dikunyah. Hal inilah yang membuat kenapa bagi sebagian orang satu makanan terasa enak sedangkan bagi sebagian yang lain satu makanan terasa sangat tidak enak.

Nah, level amilase pada ibu ternyata juga mempengaruhi level amilase pada anaknya. Level amilase ibu dan anak cenderung punya banyak persamaan. Hal inilah yang membuat masakan yang pas di lidah ibu biasanya juga pas di lidah si anak. 

Gimana? Sudah nggak penasaran lagi kan?