Tepat hari ini, tanggal 1 Juli 2020, adalah peringatan hari Bhayangkara yang ke-74. Kalau pakai guyonannya Cak Lontong, nggak kerasa, ternyata korps kepolisian di negara ini sudah berusia 74, padahal tahun kemarin masih 73.

Di usianya yang ke-74 ini, masih ada banyak catatan yang perlu diperhatikan oleh kepolisian. Tahun lalu, misalnya, berdasarkan catatan dari YLBHI dan Komnas HAM, Polri masih menjadi lembaga yang paling banyak dilaporkan oleh masyarakat terkait dengan pelanggaran hukum, utamanya terkait tindak kekerasan, kriminalisasi, dan kelambatan dalam menangani kasus.

Dari data Komnas HAM, diketahui bahwa selama setahun terakhir, total ada 744 aduan masuk yang melibatkan institusi kepolisian.

Walau masih ada banyak catatan negatif, namun tentu saja tak bisa disangkal bahwa kepolisian adalah salah satu institusi paling penting dalam per-kamtibmas-an kita.

Lebih dari itu, kepolisian adalah lembaga keprofesian yang dalam urusan penyelamatan nyawa, tidak kalah dari dokter. Bayangkan, ada jutaan orang yang nyawanya tertolong karena memakai helm saat berkendara. Dan kita semua tahu, sebagian besar orang yang pakai helm itu mau pakai helm karena takut bakal ditilang polisi, bukan karena kesadaran keselamatan diri.

Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya orang yang malas pakai helm saat bermotor kalau jarak tempuh yang dilalui dekat saja tanpa pernah mau sadar, bahwa jauh atau dekat, aspal tak pernah berubah jadi empuk.

Citra polisi secara umum memang belum baik-baik amat. Sampai-sampai dalam salah satu goyonannya, Gus Dur pernah menyebut bahwa di Indonesia ini, hanya ada tiga polisi yang jujur, yakni patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hoegeng.

Nah, karena ini dalam rangka hari Bhayangkara, maka tentu saja saya ingin membahas kiprah polisi-polisi baik. Tentu saja referensi yang saya pakai adalah guyonannya Gus Dur.

Guyonan Gus Dur, terlepas itu mungkin terdengar menyakitkan bagi kepolisian, namun ia memang terbukti.

Patung polisi, kita tahu, adalah figur yang baik. Ia polisi yang kalem. Tidak grusa-grusu. Tidak pernah mau menembak orang. Dan yang paling penting, ia tak pernah merengut.

Baca juga:  #2019GantiPresiden Dihadang, Gerindra Sesalkan Polri Tak Netral, Mardani Sebut Negara Kalah oleh Preman

Kendati demikian, tentu susah menulis sosoknya. Sebab keberadaannya tidak terlalu banyak, sehingga susah dimintai keterangan.

Hoegeng, kita semua tahu, adalah sosok yang begitu jujur. Interitasnya sebagai polisi tak diragukan lagi. Namun, saya juga tak mungkin menulis tentang beliau, sebab sudah ada puluhan bahkan ratusan tulisan yang mengulas segala puja-puji atas kiprahnya sebagai polisi.

Nah, kalau untuk polisi tidur, ini baru pas rasanya kalau kita bahas.

Polisi tidur memanglah sosok yang sangat penting terhadap ketahanan dan stabilitas nasional tanah air.

Polisi tidur, sungguhpun ia tak pernah punya kesatuan tugas, tetaplah polisi yang layak untuk disegani. Setidaknya ada banyak alasan yang membuat keberadaannya begitu penting.

Bukti apresiasi masyarakat terhadap polisi

Polisi tidur adalah bukti nyata bahwa kerja-kerja yang dilakukan oleh polisi dalam menjaga keamanan dan lingkungan senantiasa diingat dan diapresiasi oleh masyarakat.

Di lingkungan internasional, nama umum polisi tidur sejatinya adalah speed bump. Di banyak negara pun, orang-orang menyebutnya sebagai speed bump. Hanya beberapa negara, termasuk Inggris, yang menyebutnya sebagai sleeping policeman.

Namun walau tak banyak negara yang menggunakan istilah sleeping policeman, Indonesia tetap ngotot menggunakan “polisi tidur” alih-alih speed bump atau antukan kecepatan.

Hal ini secara langsung merupakan apresiasi atas kerja-kerja polisi yang bermanfaat. Lha gimana, bahkan tidur saja polisi bisa sangat bermanfaat. Apalagi kalau melek dan berdiri. Pasti jauh lebih berguna.

Meningkatkan rasio jumlah polisi

Di Indonesia, jumlah polisi masih belum banyak. Menurut Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia Irjen Arief Sulistyanto, rasio perbandingan jumlah polisi dan penduduk berada di angka 1:750. Itu adalah angka yang belum ideal, sebab menurut Irjen Arief, angka rasio perbandingan yang ideal adalah 1:350.

Itulah kenapa, kehadiran polisi tidur bisa menjadi pengerek rasio jumlah polisi dan penduduk agar bisa menjadi lebih ideal sebab kita semua paham, bahwa polisi tidur di kampung-kampung jumlahnya cukup signifikan.

Baca juga:  Anies Terburu-buru Merobohkan JPO, Polisi Jadi KZL

Minimal dalam satu RT, ada 10 polisi tidur.

Menyadarkan orang betapa buruknya ngebut di jalan

Ngebut benjut, santai nyampai. Begitu slogan yang kerap dibikin stiker dan ditempel di banyak spekbor motor. Tak bisa tidak, ngebut memang selalu bikin celaka. Banyak kecelakaan di jalan, bahkan di jalanan kampung sekalipun, yang terjadi karena pengendara terlalu bodoh dan menganggap jalan tersebut sebagai sirkuit.

Orang-orang tak sadar bahwa nenek moyang kita adalah pelaut, bukan pembalap.

Polisi tidur bukan hanya memberikan pengingat, namun juga memberikan pelajaran dan hukuman bagi orang-orang yang bahkan tidak mempedulikan peringatan “Boleh ngebut asal dituntun”.

Pemersatu masyarakat.

Keberadaan polisi tidur kerap menjadi alasan bagi warga untuk bekerja bakti. Ia, menjadi solusi puncak atas keresahan warga atas oknum-oknum yang hobi ngebut di jalanan kampung mereka.

Polisi tidur mampu menjadi penggerak utama warga untuk berkumpul, bermusyawarah, untuk kemudian berdiskusi tentang anggaran pembuatan polisi tidur itu sendiri.

Pada tahap yang lebih intens, ia juga kerap menjadi alasan bagi warga untuk berkegiatan memperbaiki dan mewarnainya.

Hal tersebut seakan menjadi bukti, bahwa keberadaan polisi tidur merupakan salah satu tanda bahwa masyarakat masih baik-baik saja, masih mau srawung satu dengan yang lainnya.

Manunggaling polisi-warga

Bukan hanya ABRI yang bisa bermanunggal dengan rakyat. Polisi pun bisa. Salah satunya ya melalui polisi tidur ini.

Hanya pada polisi tidurlah, warga menyadari bahwa keberadaan polisi begitu dekat dengan kehidupan mereka. Saking dekatnya, mereka bahkan sampai berani menginjak-injak polisi tersebut. Hal yang tak akan bisa mereka lakukan pada ABRI, serendah apa pun pangkatnya.

Ini menjadi sasmita penting, bahwa polisi tidur adalah puncak spiritualitas kepolisian di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat.

Bahkan, kemanunggalan ini bukan hanya berlaku di lintas masyarakat juga, namun juga lintas korps, termasuk dengan tentara. Ingat, dari sekian banyak polisi, hanya polisi tidur-lah yang mau dan bersedia berbaring berjajar rapi di depan markas Kopasus Kandang Menjangan itu.

Polisi lain mana mau?