“Kang, ternyata acara yang speakernya ndengung bukan hanya di acara NU, tapi juga di acaranya Ilmu Komunikasi UI yang gedungnya keren begini,” begitu kata Ahmad Tohari seperti yang tertulis dalam buku ‘Ulama Bercanda Santri Tertawa’ karya Hamzah Sahal.

Dalam dunia humor, NU sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan-keagamaan memang sudah sejak lama mempunyai banyak stereotipe-stereotipe lucu yang selama ini melekat kepadanya. Stereotipe yang sebenarnya bersifat “negatif”, namun justru kerap dibangga-banggakan oleh banyak warga NU sendiri.

Dasar warna NU, yang mungkin memang sudah sangat lekat dengan guyonan, hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu kelebihan NU sebagai sebuah organisasi. Humor memang menjadi ciri khas NU. Dan hebatnya, salah satu cara merawat kelebihan ini adalah dengan menertawakan “kekurangan” mereka sendiri.

Misalnya ya kayak speaker ndengung itu tadi.

Dalam konsep sebuah event, speaker ndengung tentu saja adalah hal yang buruk, namun saking seringnya hal buruk itu terjadi dalam berbagai acara NU, ia kemudian menjelma menjadi stereotipe yang justru seiring berjalannya waktu tumbuh menjadi semacam kekhasan tersendiri.

“Kalau ada pengajian kiai NU, tapi speakernya bening, sound system-nya mantap, itu justru harus dicurigai, jangan-jangan itu pengajian Muhammadiyah.” Begitu guyon yang tercipta tentang suara speaker ndengung ini.

Menertawakan speaker yang ndengung itu kalau dilihat dari banyak aspek tentu saja bisa menjadi sangat beragam. Ia bisa menjadi semacam sikap “nrimo” atas keadaan, bahkan menjadikannya sebagai sebuah pemakluman. Pada titik yang lain, ia juga menjadi self-criticism bagi sebuah organisasi.

Nah, stereotipe lain yang juga identik dengan acara-acara NU, menurut Hamzah Sahal —yang mana boleh jadi diamini oleh jutaan warga NU sendiri— adalah panitia yang sering nombok, dan acara yang sering terlambat.

Soal panitia yang nombok, ini sudah menjadi semacam hal yang biasa.

Saking seringnya hal ini terjadi, sampai-sampai muncul anekdot tentang kepanjangan NU sendiri yang sebenarnya bukanlah “Nahdlatul Ulama”, melainkan “Nombok Uangnya”.

Kalau soal acara yang sering terlambat ini juga sudah menjadi rahasia umum.

Sudah bukan hal baru, misalnya, kalau ada acara pengajian NU, di undangan tertulis pengajian dimulai pukul 8 malam, tapi Pak Kiai yang mengisi pengajian baru datang pukul 10.

Penulis kondang asal Semarang, Prie GS, suatu ketika pernah mengalami pengalaman yang lucu lagi berharga tentang stereotipe ke-NU-an ini, pengalaman yang kemudian berkali-kali ia ceritakan dengan sangat jenaka.

Ia, suatu ketika, pernah diundang untuk mengisi acara yang diselenggarakan oleh anak-anak muda NU (Kalau nggak IPNU, ya PMII, saya agak lupa). Sesuai jadwal, acara seharusnya dimulai pukul 11 siang.

Merasa tidak ingin mengecewakan panitia, Prie GS berusaha datang ke venue tepat waktu. Ia sudah tiba di tempat berlangsungnya acara lima belas menit sebelum acara dimulai.

Tapi nahas, ketika ia memasuki gedung, ternyata gedung masih kosong melompong. Hanya tampak dua orang panitia yang sedang sibuk memasang backdrop acara.

Prie GS tentu saja kaget. “Ini belum ada orang yang datang?” tanya Prie GS.

Dengan entengnya, salah satu panitia itu kemudian menjawab, “Lho, Mas Prie ini gimana, sudah tahu diundang sama anak-anak NU, kok ya datangnya tepat waktu.”

Modiar.

Saya sendiri juga merasakan pengalaman ini saat kemarin ngisi acara diskusi buku di Jombang.

Acara dijadwalkan mulai pukul 7 malam. Namun sampai pukul 8, peserta yang hadir masih sangat sedikit. Hanya ada 4 orang. Panitia juga masih sangat santai dan menggelar karpet sambil ngetes mic dengan nyanyi lagu Iwan Fals dengan suara yang sangat buruk. 

Saya tentu saja agak kaget. Saya khawatir, jangan-jangan nggak ada orang yang tertarik untuk mengikuti acara diskusi buku ini. Sebagai pemateri, tentu saja ini menjadi sebuah beban tersendiri.

Panitia yang tampaknya mengetahui kekhawatiran saya kemudian menenangkan saya.

“Nggak usah khawatir, Mas Agus. Sampeyan ini sedang menghadapi barisan Nahdliyin, acara sudah pasti molor. Itu kearifan lokal. Apalagi ini di Jombang, rumahnya NU. Maka molornya pasti ndobel,” katanya sambil tertawa. Jancuk.

Dan benar saja, satu setengah jam dari jadwal acara, peserta mulai datang dan memenuhi tempat diskusi.

Pengalaman tersebut membuat saya yakin, bahwa kalau ada acara yang pesertanya adalah warga NU, dan acaranya ramai lagi penuh, maka bisa dipastikan, bahwa jadwal acara tersebut sebenarnya dimulai beberapa jam sebelumnya.