• 1K
    Shares

Tak bisa dimungkiri, bahwa dalam rangkaian acara pembukaan Asian Games 2018 yang dihelat pada 18 Agustus kemarin, “aksi” Pak Jokowi yang datang dengan menaiki motor gedhe yang didahului dengan aksi jumping ala-ala atlet motorcross menjadi salah satu aksi yang paling banyak diperbincangkan oleh banyak orang.

Aksi yang dilakukan oleh Jokowi memang bukan murni aksinya sendiri. Dalam aksinya tersebut, Jokowi memang menggunakan stuntman atau pemeran pengganti. Belakangan diketahui bahwa stuntman tersebut bernama Saddum So, seorang stuntrider dan freestyler profesional dari Thailand.

Seperti biasanya, apa pun yang berhubungan dengan Jokowi memang akan selalu masuk dalam kubangan nyinyiran. Tak terkecuali aksi motoran Jokowi yang satu ini. Jokowi dinyinyiri oleh banyak orang, dari mulai Ratna Sarumpaet, Felix Siauw, sampai Dandhy Laksono.

Ferdinand Hutahaean, politisi Partai Demokrat bahkan sampai mendesak Jokowi untuk mengakui bahwa aksi yang ia lakukan menggunakan stuntman.

“Beliau ini untuk mengambil dan menarik kaum milenial yang cukup besar pemilihnya (saat Pemilu 2019). Pak Jokowi kami minta jujur ke publik untuk menjelaskan karena di media sosial ini terpecah,” kata Ferdinand.

Modiaaaaaar. Remuk bakule slondok.

Nah, ngomong-ngomong soal aksi motoran Jokowi kemarin itu, saya mengamati, ada lima golongan penting rakyat Indonesia dalam memandang aksi motoran Pak Jokowi dalam clip video pembukaan Asian Games semalam.

Lima golongan inilah yang ikut mewarnai diskusi soal aksi Jokowi yang pating sliwer di media sosial.

Golongan pertama

Golongan ini berisi orang-orang yang yakin dan percaya bahwa Pak Jokowi memang seorang freestyler motor pilih tanding, sosok yang bisa ngetril dan naik motor sambil njengat-njengat nggak karuan. Golongan ini tentu baik. Sebab mereka jadi punya kebanggaan atas presidennya.

“Wah, sangar ya Pak Jokowi, ternyata selain bisa bikin meja, kursi, dan lemari, ternyata juga bisa pakai motor sambil njamping-njamping begitu.”

Boleh dibilang, golongan ini sebelas-dua belas lah sama orang-orang Rusia yang percaya kalau Putin beneran naik beruang.

Golongan kedua

Golongan ini berisi orang-orang yang tahu dan paham bahwa Jokowi jelas (dan memang harus) pakai stuntman tapi tetap kagum dan salut dengan aksi yang dilakukan oleh Jokowi. Golongan ini tentu saja banyak diisi oleh kelompok pendukung Jokowi (untuk tidak menyebutnya sebagai cebong, atau versi yang lebih unyu: ceby).

Golongan ini tentu saja baik, setidaknya baik bagi perolehan suara Jokowi di Pilpres mendatang.

Golongan ketiga

Golongan ini berisi orang yang mencak-mencak, marah-marah, dan menghujat Jokowi karena merasa tertipu sebab Jokowi pakai stuntman (Btw, Ferdinand Hutahaean tadi bisa masuk golongan ini juga).

Sama seperti golongan pertama dan kedua, golongan ketiga ini juga baik, sebab mereka dengan senang hati mau menunjukkan kebodohannya sendiri. Golongan ini adalah golongan yang sangat berharap negaranya dipimpin oleh Stefan Everts, Danny MacAskill, atau Tony Hawk.

Golongan inilah yang oleh banyak orang disebut begitu yakin bahwa Jokowi bukanlah mantan pengusaha mebel, tapi mantan personel atraksi Tong Setan.

Golongan Keempat

Golongan keempat adalah golongan orang-orang yang nggak peduli, mau Jokowi pakai stuntman atau enggak. Sebab golongan ini percaya dan haqul yakin, aksi motoran Jokowi tidak akan berpengaruh banyak terhadap kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka.

Golongan ini juga tentu saja baik, sebab kemajuan peradaban Indonesia selama ini memang dibangun oleh orang-orang dari golongan ketiga ini.

Golongan Kelima

Ini golongan yang tak perlu dibahas, sebab golongan ini berisi Jokowi sendiri.