Merenungi Delay Pesawat Sebagai Sebuah Pelajaran

Dulu, rasanya sering sekali saya membaca berita tentang protes para penumpang pesawat karena jadwal keberangkatan pesawatnya delay. Lewat televisi saya melihat betapa para penumpang itu menjadi menusia-manusia yang beringas karena penerbangannya ditunda, entah apa sebabnya.

Saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan para penumpang tersebut. Jangankan delay, sekadar naik pesawat saja saya tak pernah.

Namun, 2014 menjadi tahun yang cukup menyenangkan bagi saya. Di tahun tersebut, buku saya terbit, karier kepenulisan saya semakin moncer, saya semakin sah dan otoritatif menjadi penulis. Saya mulai sering diundang ke luar kota untuk mengisi berbagai acara kepenulisan. Naik pesawat pun akhirnya mulai menjadi rutinitas. Dan tentu saja, akhirnya saya mulai sering mengalami apa yang dialami oleh kebanyakan penumpang pesawat: Delay.

Saya tak menyangka, Bahwa delay ternyata memang semenyebalkan itu. Tak heran jika dalam berbagai berita yang saya lihat dan saya baca, para penumpang sampai mencak-mencak, dan bahkan pada titik tertentu, sampai mengeluarkan naluri hewan mereka: menggonggong dan mengaum.


Jika delay saat sedang selo dan lowong, mungkin tak jadi. Namun jika delay justru saat kita sedang akan menghadiri acara-acara atau momen penting yang menentukan nasib hidup, misalnya, tentu saja mangkelnya setengah mati. Saya beberapa kali mengalami hal tersebut.

Sepanjang saya naik pesawat, saya memang cukup akrab dengan delay. Maklum, sebagai warga negara yang lemah dengan keuangan yang jauh lebih lemah lagi, saya tentu saja tak kuat naik Garuda kalau harus bepergian ke luar kota, mentok saya memang cuma kuat naik Lion Air. 

Dan seperti yang sudah-sudah, maskapai singa yang satu ini memang terkenal sering delay. 

Sebagai penumpang Lion, saya tentu harus menikmati ujian kesabaran yang satu itu. Saya tak bisa berbuat banyak, yah, bayar murah kok minta tepat waktu. Ngimpi.

Sebagai penebus rasa bersalah atas keterlambatannya, Lion kerap memberi saya sedikit snack sebagai pengganjal perut, dan mungkin juga pengganjal amarah. Snack yang mereka berikan bukan snack main-main: biskuit “Biskuat”, choco chips “Good Time”, dan air mineral gelas merek “Prim-a”. Saya pria baik. Tentu saja menerimanya dengan senyum, walau tentu saja, hati rasanya dongkol.

Saya merenung sejenak, hingga akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: mungkin ini memang jalan dari Tuhan melalui Lion Air agar saya berkontemplasi. Memahami makna tersirat dan subtil dari snack yang diberikan. Mungkin inilah bentuk doa Lion Air untuk para penumpang yang terlambat terbang melalui snack yang mereka berikan.

“Semoga para penumpang yang kena delay tetap punya waktu yang baik (Good time), tubuh yang sehat dan prima (Prim-a), serta badan yang kuat seperti macan (Biskuat)”