ari-ari

Jodoh Mukim Seseorang yang Penuh Misteri

MOJOK.CO – Setiap orang punya tempat di mana ia akan merasa tenang, nyaman, dan merasa kerasan saat tinggal di sana. 

Ada banyak hal yang membuat seseorang merasa sangat betah, nyaman, dan tenang saat berada atau tinggal di sebuah daerah tertentu. Dari mulai faktor cuaca, kesamaan kultur, lingkungan masyarakat, sampai faktor kekasih.

Jodoh mukim. Begitu banyak orang bilang.

Di Jogja, misalnya, ada banyak sekali orang yang merasa nyaman saat merantau ke Jogja, hingga kemudian meniatkan diri untuk menetap di sana, membikin rumah, membangun rumah tangga, punya anak, dan menghabiskan masa tua di Jogja.


Makanya jangan heran jika kemudian Jogja semakin hari semakin padat. Tanah Kaliurang atas yang dulu adalah wilayah sepi bahkan sampai dijuluki sebagai tempat jin buang anak saking sepinya, kini telah berubah menjadi salah satu daerah yang paling gemerlap dalam peradaban Jogja.

Lahan-lahan kosong di pinggiran Jogja yang dulu tak pernah diperhitungkan kini mulai banyak dilirik oleh orang dan harganya pun semakin tak masuk akal.

Orang-orang pendatang di Jogja yang kemudian tinggal di Jogja ini ketika ditanya kenapa bisa betah di Jogja hampir sebagian besar tak akan bisa memberikan jawaban yang meyakinkan. “Ya, betah aja, nyaman aja,” begitu biasanya jawabannya.

Hal tersebut konon juga terjadi pada orang-orang yang tinggal dan menetap di wilayah tertentu.

Pada kenyataannya, memang ada banyak hal yang tak bisa dimengerti tentang jodoh mukim seseorang. Kadang ia terbangun oleh faktor-faktor yang dianggap tidak masuk akal.

Salah satu cerita legendaris tentang hal ini mungkin bisa direpresentasikan oleh kisah bagaimana Sunan Giri memutuskan untuk membangun masjid dan membangun pesantren sebagai pusat penyebaran agama Islam di daerah Gresik.

Konon, Sunan Giri diperintahkan oleh ayahnya, Syaikh Maulana Ishak, untuk membangun masjid dan pesantren tersebut di daerah yang bentuk, warna, dan bau tanahnya persis dengan tanah yang diberikan oleh ayahnya.

Kelak, tanah yang bentuk, warna, dan bau tanahnya sama itu ternyata adalah daerah Bukit Giri, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Lokasi itulah yang kelak menjadi pusat persebaran agama Islam sekaligus pemerintahan Gresik pada masa itu.

Bayangkan, jodoh mukim ternyata bisa dibangun oleh kesamaan tanah.

Dalam kepercayaan Jawa, ada pula kepercayaan tentang jodoh mukim seseorang.

Konon, tempat di mana seorang bayi jatuh dari dipan tempat ia tidur adalah jodoh mukim baginya. Di tempat itulah kampung halamannya yang sesungguhnya. Di tempat itulah seseorang akan merasa nyaman dan tenang saat harus tinggal lama atau bahkan menetap di sana.

Kepercayaan Jawa yang lain mengatakan bahwa jodoh mukim seseorang adalah tempat di mana ari-ari atau plasenta seseorang ditanam.

Jadi, seseorang yang ari-arinya ditanam di Jakarta, misalnya, maka ia akan terus merasa kangen dengan Jakarta, merasa nyaman dengan Jakarta dengan segala kemacetan dan kebusukannya, kendati ia sudah menjelajah di berbagai kota lain di seluruh dunia.

Kepercayaan ini dibangun oleh istilah “Sedulur papat lima pancer”, yang mana seorang manusia sejatinya punya empat saudara penjaga, yakni kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah), dan puser (tali pusar). Oleh masyarakat Jawa, empat saudara ini diperlakukan dengan baik, sehingga saat di jabang bayi lahir, empat saudara ini dikuburkan dengan baik.

Nah, masyarakat Jawa percaya bahwa seseorang punya pertalian yang kuat dengan empat saudaranya tersebut. Sehingga, ia tak bisa jauh-jauh dengan tempat di mana empat saudaranya itu dikuburkan.


Puthut EA, suatu ketika pernah menuliskan tentang hal tersebut melalui status Facebooknya. Kata dia, “Di mana ari-ari atau plasenta ditanam, di situlah dia akan kerasan.”

Entah kenapa, setiap kali saya baca ulang status Facebooknya tersebut, saya berdoa semoga apa yang ia katakan adalah kebenaran yang hakiki.

Maklum saja, menurut penuturan ayah dan Ibu saya, ari-ari saya dikuburkan di dalam tanah yang di atasnya sekarang berdiri sebuah musala. Dan sampai sekarang, saya belum merasa kerasan-kerasan amat. Setiap selesai salat, berdoa sedikit dan minimalis, trus langsung ngelencer pulang. Salampret, begitu orang bilang.

Saya takutnya, ari-ari saya ditanam di tanah yang sekarang jadi buk perempatan jalan, sebab tiap kali pulang ke Magelang, saya selalu saja betah nongkrong lama-lama di sana.