Putus-Cinta-lagi

Jangan Takut Nembak, Kisanak

Suatu ketika, saya pernah ditanya oleh seseorang tentang bagaimana bagaimana seseorang seperti saya bisa punya pacar. Pertanyaan tersebut, walau cukup menyakitkan, namun memang sangat beralasan. Maklum saja, di tahun lima-enam tahun lalu, saya memang pernah menulis sebuah buku berjudul “Jomblo tapi Hafal Pancasila”, sebuah buku yang berisi tentang suka duka saya sebagai seorang jomblo.

Ditanya begitu, saya tak bisa banyak menjawab, sebab saya sendiri juga bingung, kenapa pacar saya kok ya mau-maunya sama saya.

Namun, sebagai seorang penulis yang tak tegaan, saya tentu saja sebisa mungkin memberikan jawaban. Dan jawaban yang saya berikan adalah: “Jangan takut nembak”.

Jawaban tersebut tentu bukan jawaban asal, melainkan merupakan endapan dari kisah-kisah lelaki yang pernah curhat sama saya tentang kehidupan asmaranya.


Salah satu masalah terbesar lelaki yang tak punya pacar memang selama ini adalah soal kepercayaan diri. Dia ingin punya pacar, tapi tak punya keberanian untuk sekadar mengungkapkan perasaan pada perempuan yang ia suka. Yang lebih buruk, ketidakberanian itu muncul karena perasaan takut ditolak.

Padahal, banyak yang tak sadar, Bahwa bagian paling menyenangkan dari asmara adalah sensasi menembak. Ini bukan soal diterima atau tidak, namun perkara mengungkapkannya.

Logika sederhana begini, kalau kau berani menembak, maka ada kemungkinan kau akan diterima atau kau akan ditolak. Namun jika sedari awal tak berani menembak, maka sama sekali takkan ada kemungkinan diterima.

Sederhana.

Kalau diterima, ya alhamdulillah. Kalau ditolak, ya alhamdulillah juga, sebab itu artinya, kita masih diberikan kesempatan untuk menembak yang lain. Mengalami penolakan yang lain. Hahaha. Yang terpenting adalah, bagaimana mental kita untuk selalu bersiap akan kemungkinan terburuk. Itu adalah jalan pedang seorang pecinta yang luar biasa.

Saya berikan satu cerita berkesan tentang pelajaran ini. Kisah yang terjadi tahun 2015 lalu di ajang final Miss Universe.

Saat itu, ada tiga kandidat yang menjadi finalis Miss Universe. Ketiga finalis Miss Universe sudah berdiri berjajar, mereka adalah Pia Wurtzbach dari Philippine, Olivia Jordan dari USA, dan Ariadna Gutierrez dari Colombia (Ingat, Colombia lho ya, bukan Columbia, tolong dibedakan karena keduanya memang dua entitas yang sangat berbeda, yang satu negara Amerika latin, sedangkan satunya lagi perusahaan kredit elektronik dan furniture).

Ketiga finalis nan cantik-cantik itu berdiri penuh harap, menunggu pengumuman penting, siapa yang bakal menjadi Miss Universe 2015, gelar bergengsi yang menjadi representasi tertinggi untuk sosok wanita yang punya 3B (Brain, Beauty, dan Boobs Behaviour) memikat, diantara jutaan wanita dari seluruh penjuru dunia.

Penonton riuh rendah, memberikan dukungan kepada ketiga kontestan. Para pemirsa di seluruh dunia yang menyaksikan acara lewat siaran televisi pun tak kalah berdebar dibanding ketiga kontestan, wabil khusus pemirsa dari negara ketiga finalis.

Penantian yang penuh debar itu akhirnya berkurang sepotong, saat pembawa acara, Steve Harvey mengumumkan bahwa Miss USA, Olivia Jordan berada di peringkat ketiga. Itu artinya, perebutan gelar Miss Universe hanya tinggal menyisakan Pia Wurtzbach dari Philipine dan Ariadna Gutierrez dari Colombia.

Bagaimanapun juga, debar memang harus diakhiri.

Waktu yang telah dinantikan pun tiba, Steve Harvey akhirnya mengumumkan bahwa yang berhak menyandang gelar Miss Universe 2015 adalah Ariadna Gutierrez dari Colombia. Para penonton bersorak, Gutierrez yang memang cantiknya bedebah keterlaluan itu terlihat berkaca-kaca. Mahkota Tiara pun kemudian disematkan di atas kepalanya. Malam itu agaknya akan menjadi malam yang indah untuk Gutierrez dan seluruh masyarakat Colombia.

Hingga pada akhirnya, tibalah momen yang sangat menyakitkan itu.

“I have to apologize…” begitu kata si pembawa acara Steve Harvey

Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang saya sendiri seakan tak tega untuk menuliskannya.

Ternyata, Harvey salah membaca results card (kartu hasil penentuan). Yang harusnya jadi Miss Universe ternyata adalah Miss Philippine, Pia Wurtzbach, dan bukan Ariadna Gutierrez. Di kartu hasil penentuan, nama Ariadna Gutierrez ditulis sebagai “1st runner up”, dan kemungkinan inilah yang disalahpahami oleh Steve Harvey.


Mahkota Tiara pun akhirnya direngut kembali dari Ariadna Gutierrez dan kemudian diberikan kepada Pia Wurtzbach.

Pia Wurtzbach kemudian nampak berkaca-kaca dan seakan tak percaya. Sebaliknya Ariadna Gutierrez nampak celili dan sumpek karena (mungkin) menahan malu, menjadi Miss Universe hanya selama empat menit. (Ah, andai saya bisa memberikan pundak saya untuk mbak Gutierrez bersandar).

Steve Harvey sebagai pihak yang paling kemudian lnangsung menjadi bahan bullyan dan olok-olok empuk di jagad internet. Ia pun segera menuliskan permintaan maaf dan rasa bersalahnya melalui akun sosial medianya.

“I want to apologize emphatically to Miss Philippines and Miss Colombia. This was a terribly honest human mistake and I am so regretful” tulis Harvey di akun twitternya.

Saya paham, bahwa Anda mungkin bukan penggemar atau pengikut setia Miss Universe, saya sendiri pun juga tak terlalu menggemarinya (saya cuma sebatas nafsu sama kecantikan dan kesemokan para kontestannya, tidak lebih).

Lagian, ngapain juga mengikuti Miss Universe, wong ya toh, paling mentok, juaranya cuma jadi bintang iklan You-C 1000 yang tugasnya cuma bilang “Healthy inside, Fresh Outside” dengan bibir dibikin se-sensual mungkin.

Tapi setidaknya, ada satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari tragedi final Miss Universe di atas.

Peristiwa di atas mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersiap akan kemungkinan yang buruk dan memalukan. Kadang, sesuatu yang menyedihkan justru hadir sesaat setelah momen yang paling membahagiakan.

Seperti roda yang berputar, yang kadang berputarannya terjadi begitu cepat. Sama seperti Mbak Gutierrez yang sempat bahagia karena menjadi juara, namun akhirnya harus dikecewakan karena kemudian justru hanya menjadi runner up.

Pembelajaran ini tentu juga bisa terapkan pada kehidupan asmara. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu (dalam hal ini, kekasih), keberanian untuk memperjuangkan adalah sebuah kewajiban. 

Tak peduli hasilnya, yang penting adalah keberanian dan effortnya.

Kalau Sutan Syahrir pernah berkata, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan,” maka tak ada salahnya jika saya juga berkata “Cinta yang tidak diungkapkan, tidak akan pernah terbalaskan.”

Jangan takut nembak, Kisanak.