Di Jogja, ada banyak sekali pesantren, dari yang bernafas tradisional, sampai yang berbasis modern dengan penerapan teknologi yang canggihnya ngedap-edapi.

Dalam arus dunia per-pesantren-an tersebut, pesantren Kaliopak menjadi sebuah anomali yang sangat mencolok. Pesantren yang berdiri di Klenggotan, Piyungan, Bantul ini dengan sangat percaya diri mengidentifikasikan dirinya sebagai pesantren seni dan budaya.

Hal tersebut ditegaskan dengan banyaknya pameran dan juga pertunjukan-pertunjukan seni di pesantren ini.

Tak heran jika kemudian pesantren ini oleh banyak orang lebih kerap diasumsikan sebagai entitas rumah komunitas seni atau galeri pameran alih-alih pesantren.

Selayaknya pondok pesantren yang fokus pada dunia seni dan budaya, maka pemimpin pondok pesantren ini pun tentu saja juga pastilah sosok yang punya ketertarikan pada dunia seni. Dan memang begitulah kenyataannya. Kiai Jadul Maula, pengasuh pondok pesantren ini nyetanya memang merupakan sosok yang punya ketertarikan terhadap dunia seni dan budaya.

Ia kerap memprakarsai penyelenggaraan acara seni, pembacaan puisi, pameran, pelatihan menulis, sampai diskusi film di pesantren yang ia pimpin ini.

Keunikan pesantren Kaliopak mau tak mau menjadi magnet tersendiri bagi Mojok dan Gusdurian yang memang sedang menginisiasi konten Sowan Kiai selama bulan ramadan ini.

Maka, pertengahan ramadan beberapa waktu yang lalu, Mojok dan Gusdurian memantapkan diri berkunjung ke pesantren Kaliopak untuk sowan dan ngobrol-ngobrol seputar pesantren pada Kiai Jadul Maula (yang belakangan mengaku sangat berat kalau harus dipanggil “Kiai”).

Sebagai media yang lumayan indie-artsy-edgy, Mojok tentu saja butuh sentuhan seni dalam konten keagamaannya. Dan sowan ke Kiai Jadul Maula tentu saja mampu memuaskan dahaga tersebut.

Kami (Mojok dan Gusdurian Jogja) berangkat dari titik kumpul di kontrakan anak-anak Gusdurian di Jogja utara ke pesantren Kaliopak pada pukul sembilan malam. Kiai Jadul Maula sebelumnya memang sudah bilang kalau dirinya bisa disowani setelah jam tarawih.

Sampai di pondok ternyata sedang ada agenda Ngaji Posonan, agenda yang belakangan kami ketahui memang rutin dilakukan selama bulan ramadan.

Ngaji Posonan di Kaliopak tentu saja berbeda dengan ngaji yang kebanyakan dilakukan di pesantren-pesantren lainnya. Di Pondok Kaliopak, pengajiannya membahas tema-tema yang bukan melulu murni soal keislaman, melainkan juga tentang sastra, sosial, budaya, dan sesekali tentang dunia pergerakan, walau tentu saja pembahasannya masih beririsan dengan Islam.

Saat kami berkunjung ke Kalipoak, tema yang dibahas adalah tentang sebuah kitab nasihat Minang lawas (saya lupa nama kitab dan pengarangnya) yang disampaikan oleh budayawan Minang, Inyiak Ridwan Mudzir.

“Wawancaranya nanti setelah ngaji, ya” kata Kiai Jadul Maula pada kami. “Kalian nunggu saja dulu, atau sekalian ikut ngaji juga boleh,” kata Kiai Jadul.

Kami memilih opsi kedua. Pilihan yang tak salah, sebab pembahasan yang dipaparkan dalam ngaji posonan ternyata sangat unik dan sesekali jenaka.

Sesi ngaji posonan baru berakhir sekitar pukul 12 malam.

Setelah ngeteh-ngeteh sebentar, kami langsung menyiapkan set tempat untuk syuting. Kiai Jadul menyarankan kami untuk wawancara di ruang musala pesantren. Kami setuju, sebab ruangan musala memang punya pencahayaan yang cukup untuk kami gunakan sebagai tempat syuting.

Namanya juga musala pondok seni, makaa desainnya sudha pasti estetique. Ada beberapa lukisan yang tergantung di beberapa sudut tembok musala. Di depan musala, tergantung sebuah kentongan berbentuk bebek yang terbuat dari pokok akar bambu petung.

Sebelum wawancara, Kiai Jadul sempat meminta agar dirinya tidak dipanggil dengan embel-embel Kiai, melainkan cukup “Mas” saja.

“Embel-embel Kiai itu berat,” katanya.

Permintaan tersebut agaknya menjadi permintaan yang agak sia-sia, sebab pada akhirnya, Dafi dan Fairuz tetap saja memanggil beliau dengan panggilan “Mas Kiai Jadul”.

Kepada Kami, Kiai Jadul memulai sesi wawancara dengan menceritakan ihwal berdiri dan berkembangnya pesantren yang ia asuh.

Kiai Jadul menjelaskan bahwa pesantren Kaliopak ini unik. Proses berdirinya berbeda 180 derajat dari pesantren lain kebanyakan.

“Umumnya pesantren itu kan sudah ada generasi awal, jadi ada kiai, alim, di satu bidang, misal di bidang Al-quran, fiqih, atau tasawuf, lalu beliau mendapatkan santri, lalu ngajar, lama-lama dibangun pesantren. Nah kalau di sini beda, sudah ada tempat yang diniati untuk dibangun pesantren, tapi nggak ada kiai-nya, apalagi ilmunya.” terangnya.

Lokasi tempat pondok Kaliopak berdiri memang bukan lokasi sembarangan. Tak jauh dari lokasi pesantren, ada petilasan Sunan Kalijaga. Di dusun yang masih satu kelurahan dengan pondok, tepatnya di daerah Jalasutra, juga ada makam Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga. Di lokasi yang lain, juga ada makam Kiai Jagatamu, yang oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai salah satu murid Sunan Kalijaga.

Kedekatan daerah tersebut dengan sosok Sunan Kalijaga menurut Kiai Jadul menjadi semacam inspirasi bagi dirinya dan kawan-kawan untuk bisa ikut meneruskan visi Sunan Kalijaga menyebarkan ilmu agama utamanya lewat media seni.

“Yang kita ketahui itu, beliau (Sunan Kalijaga) mengajarkan keilmuan itu melalui media seni.”

Kiai Jadul bersama kawan-kawannya kemudian rutin mengadakan acara seni di pondok tersebut sambil mencicil membangun gedung. Semakin lama, intensitas kegiatan kesenian, dari mulai pembacaan puisi, diskusi film, wayangan, sampai pertunjukkan gamelan semakin rutin.

Hal tersebut akhirnya membuat masyarakat sekitar mulai mengenali pondok Kaliopak sebagai pondok budaya.

“Jadi kalau ada masyarakat tanya soal pondok ini, tanyanya bukan ‘ngajinya apa?’, tapi ‘Mau ada pentas apa lagi?’, ya boleh dibilang, pondok ini tu pondok event, begitu lah,”kata Kiai Jadul sambil terkekeh.

Bagi banyak orang, seni kerap dianggap menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan Islam. Stigma tersebutlah yang ingin dihilangkan oleh Kiai Jadul.

Seni, menurut Kiai Jadul, menjadi instrumen yang amat penting bagi Islam. Hal tersebut karena jalan yang paling lapang bagi Islam untuk bisa menyebar utamanya di Jawa salah satunya adalah melalui seni.

“Sejarah dakwah pesantren itu melalui kesenian, jadi kalau hari ini misalnya ada pesantren yang meninggalkan seni, itu kan seperti Malin Kundang, mengingkari ibunya sendiri,” terang Kiai Jadul.

Menurut Kiai Jadul, ia snagat heran dengan banyaknya orang yang sangat antipati terhadap seni, utamanya jika hal tersebut kemudian dibenturkan dengan sentimen agama.

“Seni itu, hukum dasarnya boleh. Yang penting niatnya. Jadi kalau misal berkesinian, nonton wayang, nonton pagelaran jatilan, niatnya untuk membenahi dan memperbaiki diri, itu jadi tidak hanya boleh, itu bisa jadi sunnah. Tapi kalau nonton wayang niatnya hanya untuk nonton sindennya, main kartu, itu jadi tidak boleh. Itu tidak hanya untuk kesenian saja lho ya. Ngaji saja kalau niatnya pacaran, itu juga jadi haram. Saja. Tapi kenapa yang distigma kok cuma seni.”

Hal tersebut menjadi dasar bagi Pondok Kaliopak untuk terus menyelenggarakan kegiatan kesenian.

Sebagai sebuah pondok seni, Pondok Kaliopak berkali-kali dikunjungi oleh para kiai “seniman”, sampai budayawan, dari mulai Gus Mus, Zamawi Imron, Sampai Ahmad Tohari.

Kunjungan tokoh-tokoh tersebut secara tidak langsung ikut menebalkan reputasi Pesantren Kaliopak sebagai pesantren seni. Banyak seniman yang kemudian menawarkan diri untuk menyelenggarakan acara di Kaliopak.

Wawancara kami dengan Kiai Jadul Maula berakhir sekitar pukul setengah dua pagi. Sungguh sebuah wawacara yang sangat “seni”. Sebab bagi kami, semakin larut, semakin seni.

Sesaat sebelum kami pulang, kami sempat berkeliling sebentar ke beberapa sudut pondok pesantren. Yang kami Temukan tentu saja berbagai ornamen lukisan dan karya seni lainnya.

“Bener, Daf. Memang lebih cocok jadi gallery ketimbang pondok pesantren,” kata saya pada Dafi.



Tirto.ID
Loading...

No more articles