Pada tanggal 18 September 2020 lalu, Centers for Disease Control (CDC), semacam Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat merilis sebuah buku manual tentang penyebaran virus Covid-19. Dalam buku manual yang diunggah di website resmi mereka, CDC menyebut penularan Covid-19 lewat partikel yang terhirup dari udara (airborne) sebagai jalur utama persebaran.

Dalam dunia medis, CDC-nya Amerika ini dikenal sebagai lembaga yang otoritatif. Pokoknya pilih tanding dan jatmika. Konon, hanya dokter-dokter paling tokcer yang jempolan yang bisa bertugas di sana. Penelitian-penelitian yang dihasilkan oleh CDC hampir selalu menjadi rujukan lembaga-lembaga kesehatan di seluruh dunia.

Maka, ketika CDC menyatakan bahwa Covid-19 punya kemungkinan yang sangat besar untuk menyebar melalui udara, gemparlah dunia. Rilisan CDC tersebut langsung memancing kehebohan tersendiri. Pemberitaan di berbagai media di seluruh dunia langsung menyebarkan dan mengamplifikasi buku manual tersebut.

Kelak, buku manual yang diunggah CDC tersebut kemudian dihapus tiga hari setelah diunggah. CDC lantas mengumumkan bahwa buku manual tersebut sengaja dihapus karena sifatnya masih draf dan belum seharusnya dipublikasikan. Panduan tersebut, menurut pihak CDC, terunggah secara tidak sengaja.

“Versi draf dari usulan perubahan tentang rekomendasi tersebut terunggah secara tidak sengaja ke website resmi. CDC saat ini memperbaharui rekomendasinya terkait penularan SARS-CoV-2 (virus yang menyebabkan COVID-19) secara airborne,” tulis CDC di website resmi mereka.

Pada awal Oktober lalu, CDC akhirnya merilis buku manual terbaru yang menyatakan bahwa Covid-19 memang benar-benar menular melalui udara.

Baca juga:  Bagaimana Orang-orang Desa di Cina Melawan Corona? Apa Mirip dengan di Indonesia?

“Beberapa infeksi bisa menyebar lewat paparan virus dalam droplet dan partikel kecil yang bisa bertahan di udara selama beberapa menit hingga beberapa jam,” tulis CDC. “Virus tersebut bisa menginfeksi orang dalam jarak lebih dari 6 kaki (1,8 meter) dari orang yang terinfeksi setelah orang tersebut meninggalkan ruangan.”

Kesalahan yang dilakukan oleh CDC tentu saja fatal, kendati demikian, tak banyak pihak yang menyalahkan CDC, setidaknya, orang-orang justru menganggap kesalahan yang dilakukan oleh CDC sebagai sesuatu yang bisa dimaklumi, di samping rilisan dari CDC tersebut memanglah penting sebagai sebuah peringatan agar orang-orang semakin waspada.

Nah, pola kesalahan yang sama tampaknya sedang dipraktikkan oleh Presiden Jokowi.

Dalam menangani pandemi ini, pemerintah memang mencoba menggunakan pendekatan yang tanggung. Pemerintah ingin berfokus pada kesehatan dan ekonomi. Jokowi menggunakan istilah “gas dan rem” dalam menjelaskan pendekatan ini.

“Dalam mengelola manajemen krisis ini, rem dan gas ini harus betul-betul seimbang,” terang Jokowi pada akhir Juni lalu. “Tidak bisa kita gas di urusan ekonomi, tetapi kesehatannya menjadi terabaikan. Tidak bisa juga kita konsentrasi penuh di urusan kesehatan, tetapi ekonominya menjadi sangat terganggu.”

Pendekatan ini kemudian diprotes oleh banyak orang. Pemerintah yang dianggap meletakkan kesehatan seimbang dengan ekonomi dianggap terlalu egois. Nyawa lebih penting ketimbang uang, begitu kata orang-orang.

Di samping itu, pendekatan tersebut juga dianggap tidak cukup berhasil untuk menangani pandemi. Per tanggal 3 September lalu, jumlah penambahan angka positif harian Covid-19 selalu di atas angka 3 ribu. Jumlah total kasus positif saat itu pun sudah tembus 200 ribu kasus. Tentu saja itu jumlah yang sangat mengkhawatirkan. Butuh 5 bulan untuk mencapai 100 ribu kasus pertama dan hanya butuh 1,5 bulan untuk menambah 100 ribu berikutnya.

Baca juga:  Hasil Kerja Menteri Pemerintahan Jokowi, 51 Persen Saham Freeport Resmi Milik Indonesia

Gara-gara itu, pemerintah kemudian mulai terang-terangan akan fokus pada kesehatan dan tak lagi membagi fokus penanganan dengan ekonomi.

Hal tersebut dikatakan oleh Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna untuk Penanganan Kesehatan dan Pemulihan Ekonomi Tahun 2021 yang disiarkan secara langsung di akun YouTube Sekretariat Presiden pada Senin, 7 September 2020 lalu.

“Kunci dari ekonomi kita agar baik adalah kesehatan yang baik. Kesehatan yang baik akan menjadikan ekonomi kita baik. Artinya fokus kita tetap nomor satu adalah kesehatan,” terang Jokowi. “Sekali lagi saya ingin perintahkan jajaran komite penanganan covid dan pemulihan ekonomi, menkes, TNI/Polri, betul-betul agar yang berkaitan dengan urusan covid menjadi fokus kita, ekonomi akan mengikuti. Jangan sampai kita urusan kesehatan, urusan covid belum tertangani dengan baik, kita sudah men-starter, restart di bidang ekonomi. Ini sangat berbahaya.”

Harapan pun muncul. Rakyat berharap agar pernyataan Jokowi tersebut bakal berimbas dengan kebijakan-kebijakan ekstrem seperti lockdown total, tracing menyeluruh, sampai tes massal.

Namun, harapan tinggal harapan. Langkah-langkah di atas toh tidak juga dilakukan.

Jokowi, seperti selayaknya CDC, kemudian mengumumkan hal yang sebelumnya sempat ia koreksi. Jokowi menyatakan bahwa pemerintah akan berfokus pada kesehatan dan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan oleh Jokowi melalui sebuah video yang diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden mengenai strategi penanganan Covid-19 pada Minggu, 4 Oktober 2020 kemarin.

Baca juga:  Ketika Gibran Rakabuming Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo untuk Pilpres 2019

“Saya paham masih banyak tantangan, namun tidak sedikit yang telah kita kerjakan. Singkatnya, strategi pemerintah sejak awal adalah mencari titik keseimbangan. Jika kita korbankan ekonomi, sama saja kita mengorbankan puluhan juta orang. Ini bukan opsi yang kita ambil, kita harus cari keseimbangan yang pas,” terang Jokowi. “Tidak perlu sok-sok-an akan me-lockdown provinsi, me-lockdown kota, atau me-lockdown kabupaten, karena akan mengorbankan masyarakat. Kita serius mencegah wabah supaya tidak meluas.”

Apakah yang dilakukan oleh Jokowi salah? Bisa ya, bisa tidak. Namun, jika menilik pada hal yang terjadi pada CDC, maka apa yang dilakukan oleh Jokowi boleh jadi memang disengaja. Sedari awal, ia memang ingin membagi fokus pada kesehatan dan ekonomi dalam menangani pandemi. Namun, ia tak ingin pendekatan tersebut diprotes oleh banyak orang. Nah, besar kemungkinan, Jokowi terinspirasi dari “ke-plin-plan-an” CDC yang ternyata tak banyak disalahkan oleh banyak orang.

Pada kenyataannya, apa yang dinyatakan oleh CDC maupun Jokowi toh memang punya dampak yang sama. Pernyataan CDC membuat orang jadi lebih waspada utamanya saat berada di ruangan kedap. Begitu pula dengan pernyataan Jokowi yang juga membuat orang jadi lebih waspada. Bedanya, kewaspadaan tersebut muncul karena orang-orang sadar, bahwa pemerintah memang tak bisa diandalkan dan diharapkan.

Kewaspadaan memang akan selalu penting. Apa pun alasannya.