Tanya

Halo, Gus Mul. Salam sejahtera.

Langsung ya, Gus.

Jadi begini, seperti yang sudah kita semua tahu, sekarang banyak orang yang sudah mulai waspada terhadap wabah virus corona. Jumlah orang yang terkena virus ini kian hari kian banyak, ditambah dengan masih lambannya upaya pemerintah dalam menangani masalah ini membuat kita punya kekhawatiran tersendiri.

Nah, saya menjadi salah satu orang yang menyimpan kekhawatiran itu, Gus. Kekhawatiran itu muncul karena nenek saya.

Jadi, nenek saya ini tipikal orang yang agak keras. Ia suka sekali jalan-jalan keliling kampung untuk mengisi waktu luang. Sejak pensiun sebagai kepala sekolah, nenek memang suka sekali jalan-jalan sambil momong cucunya (anaknya mbak saya, kebetulan tinggal serumah sama nenek). Nah, kebiasaan jalan-jalan ini kemudian tumbuh menjadi semacam rutinitas yang hukumnya kayak semi wajib. Dengan atau Tanpa momong cucunya, nenek saya tetep jalan-jalan. Yah, mungkin karena dulu waktu jadi kepala sekolah Nenek selalu disibukkan dengan kegiatan, jadi setelah pensiun bingung mau ngapain.

Nah, tentu kamu tahu kan, Gus, kalau banyak beraktivitas di luar rumah itu sangat riskan. Apalagi nenek saya usianya sudah umur. Katanya semakin tua usia, semakin rentan orang bisa meninggal karena virus corona. Itulah yang bikin saya khawatir tiap kali nenek jalan-jalan keliling kampung. Apalagi di daerah kami, di Bantul, sudah ada beberapa PDP dan bahkan ada pasien positif.

Sebagai cucu yang baik, saya sudah berkali-kali mengingatkan nenek saya agar untuk sementara tidak jalan-jalan dulu, soalnya sedang ada wabah virus corona. Saya takut nenek kenapa-napa. Tapi dasar nenek, ia ngotot tetep jalan-jalan. Katanya, ia nggak takut virus, kalau memang jatahnya meninggal ya meninggal.

Nenek kemudian mengeluarkan jurus yang juga banyak digunakan oleh banyak orang: “Takut itu sama Gusti Allah, bukan sama virus.”

Saya jadi bingung. Kadang jadi jengkel sendiri. Apakah dirimu punya saran, Gus?

~Ajeng

 

Jawab

Dear Ajeng.

Jadi begini. Masalah yang Sampeyan hadapi sekarang ini adalah masalah yang juga dihadapi oleh banyak orang. Banyak yang bingung bagaimana menasihati anggota keluarganya yang kebetulan punya kesadaran rendah akan wabah virus ini.

Banyak orang, utamanya orang tua yang merasa tak perlu takut dengan corona. Kalau memang sudah jatahnya mati, ya mati saja. Ini juga yang kebetulan terjadi pada nenek Sampeyan. Semacam tawakal dalam bentuk yang kurang tepat.

Nah, kalau sudah begini, untuk menasihatinya, tentu bukan menggunakan instrumen kesehatan dirinya, melainkan kesehatan orang lain yang dicintainya. Cucunya, misalnya.

Orang sepuh itu cenderung tidak peduli dengan kesehatan dirinya, logikanya, kalau sakit, toh memang jatah umurnya tidak akan lama lagi. Tapi, ia sangat peduli dengan kesehatan orang-orang di sekitarnya, utamanya cucunya sendiri. Tingkat kepeduliannya sangat luar biasa. Ibarat kata, kalau sampai ada seekor nyamuk yang berani menggigit si cucu, si nenek tak akan segan-segan untuk memburu si nyamuk dengan perburuan yang paling barbar.

Nah, faktor psikologis inilah yang harus dimanfaatkan. Bilang sama nenek Sampeyan kalau virus corona ini bisa membahayakan semua orang, termasuk keponakan kamu itu.

Bilang sama nenek Sampeyan, “Mbah, virus corona ini mudah menular, termasuk lewat sentuhan. Nah, kalau sampai Mbah kena, nanti si Thole (nama anaknya mbakmu itu) juga bisa kena. Aku baca berita di TV, katanya Sudah ada bayi yang kena, Mbah. Mbok mulai sekarang, dikurangi dulu jalan-jalannya, kasian si Thole.”

Saya nggak bisa ngasih saran panjang-panjang, tapi Insya Allah dengan cara itu, Nenek sampeyan bisa nurut.

Semoga kita semua senantiasa sehat.

~Agus Mulyadi