Pertanyaan

Dear, Mbak Lia.

Kenalkan, saya Yuni, seorang ibu rumah tangga muda beranak dua.

Langsung saja, ya, Mbak Lia. Saya nggak tahu apakah menumpahkan curhat saya di Mojok ini bisa memberikan jawaban atas permasalahan saya atau tidak, mengingat curhat saya kali ini adalah tentang rumah tangga, sedangkan saya tahu, Mbak Lia sendiri belum berumah tangga. Tapi siapa tahu, Mbak Lia bisa memberikan jawaban yang mungkin malah tidak terpikirkan oleh orang yang surumah tangga seperti saya.

Jadi begini, Mbak. Belakangan ini, sekitar satu tahun terakhir, suami saya mendadak hobi sekali membeli miniatur mobil, mobilan-mobilan, atau apalah itu namanya. Yang jelas semacam mainan mobil kecil tapi nggak buat dimainin, cuma dipajang dan difoto-foto begitu.

Dia mendadak punya hobi membeli mainan itu setelah dia mampir ke salah satu rumah kawannya yang sampai sekarang saya nggak tahu siapa namanya. Suami saya ngakunya begitu. “Bagus, Bu, aku jadi kepingin.”

Awalnya cuma beli satu, kemudian nambah, nambah lagi, nambah lagi, sampai sekarang mungkin sudah ada lebih dari 50 jumlahnya. Rata-rata seminggu beli satu.

Saya pernah protes sama dia, ngapain beli mainan nggak berguna kayak gitu, mending duitnya dikumpulin buat beli apa gitu, atau buat langganan Netflix keluarga yang jelas ada manfaat hiburannya, atau sekalian ditabung buat beli mobil beneran. Malah karuan.

Tapi dia ngotot, dan bahkan sempat agak marah sama saya.

“Kamu ini, gajiku sebagian besar aku kasih ke kamu buat kebutuhan rumah, masak aku beli mainan begini saja nggak boleh!” Kata suami saya waktu itu dengan nada yang agak tinggi. Kalau saya balas dengan ngeyel, jawaban dia defensif, “Ya kan nanti mainan ini juga bisa buat anak-anak!”

Sejak saat itu, saya males ngomentarin kebiasaan dia beli mobil-mobilan itu. Takut malah jadi perkara. Tapi hati ini rasanya gedeg tiap dia beli mobil-mobilan itu.

Gimana, ya Mbak Lia. Apa yang sebaiknya saya lakukan.

Jawaban

Dear Mbak Yuni.

Mohon Maaf, Mbak Lia-nya sekarang sudah nggak di Mojok lagi, jadi untuk rubrik Curhat ini, sesekali saya yang pegang. Tadinya Prima yang seharusnya membalas curhatan Anda. Tapi berhubung saya dianggap lebih kompeten sebab saya sudah menikah, maka jadilah saya yang ditugasi untuk menjawab curhatan ini.

Pertama, mainan mobil-mobilan yang sering dibeli sama suami sampeyan itu namanya “diecast”. Yah, ini FYI aja sih. Sebagai wawasan tambahan saja. Siapa tahu suatu saat nanti, sampeyan masuk kuis ‘Who wants to be a Millionaire’-nya Om Tantowi Yahya itu, trus dapet pertanyaan “Apa sebutan mainan mobil-mobilan yang sering dibeli sama suami, jarang dimainkan, tapi lebih banyak buat difoto dan dipajang saja?” Siapa tahu, ya kan? 

Nah, selanjutnya, untuk perkara kebiasaan suami sampeyan, ini bukan karena saya sebagai laki-laki trus jadi agak membela sesama laki-laki lho ya, tapi ini murni dari informasi saya yang saya dapat dari sumber yang layak ditempeleng, bahwasanya, kebiasaan suami membeli barang-barang “aneh” termasuk mainan itu tidaklah selamanya buruk.

Begini, lelaki, ehm, sebenarnya perempuan juga sih, butuh ruang pengalihan. Pengalihan dari apa? Ya banyak. Dari rutinitas pekerjaan, dari kehidupan rumah tangga, dari pergaulan, dan dari banyak hal. Eskapis. Hal yang bisa membuatnya sejenak melupakan rutinitas yang keras.

Nah, banyak lelaki menyalurkan pengalihannya itu pada mainan. Boleh jadi, itu adalah semacam dendam masa lalu yang saat kecil tidak pernah tertuntaskan. Saat kecil tak punya uang buat beli tamiya, pas sudah besar dan bisa cari duit sendiri, lalu mborong tamiya. Saat kecil nggak pernah bisa main tembak-tembakan, akhirnya pas gedhe dan punya banyak duit, jadi hobi main paint ball. Hal serupa juga terjadi pada obyek yang lain, bisa robot-robotan gundam, atau baju cosplay, atau komik, atau apa pun itu.

Nah, pada kasus suami sampeyan, dendam itu saya duga tumbuh ketika dia melihat diecast milik kawannya. Ia tertarik, kemudian membelinya, dan kemudian mendapat semacam kepuasan tersendiri, kemudian mulai membeli lagi dan lagi.

Apakah itu buruk? Tergantung dari sisi mana sampeyan melihatnya. Kalau sampeyan melihatnya dari sisi penghematan duit, ya pasti buruk. Apa pun itu, jika dilihat dari sisi penghitungan duit, ya pasti tampak buruk. Sampeyan pun kalau beli telur untuk dimasak dan dimakan, kalau dilihat dari sisi penghematan duit yang bisa jadi buruk juga. Argumennya “Ngapain beli telur kalau makan sama nasi dan garam saja sudah cukup buat bikin kenyang?” Atau beli jilbab bagus (Ngapain beli jilbab bagus kalau pakai mukena saja sudah cukup untuk menutupi aurat?), atau beli kasur spring bed (Ngapain beli spring bed kalau tidur di tiker aja juga sama-sama merem?)

Nah, tapi kalau dilihat dari segi yang lain, misal dari sisi psikologis, bisa jadi kebiasaannya itu justru baik. Misal dengan membeli mainan tersebut, suami sampeyan bisa jadi tambah senang. Bisa lebih semangat bekerja agar bisa membeli koleksi yang lain. Bisa lebih punya gairah hidup. Bisa punya lingkaran pergaulan baru sesama pengoleksi diecast.

Ingat, lelaki dewasa sejatinya adalah anak kecil yang terjebak pada tubuh yang lebih besar. Boys will be boys.

Saran saya, cobalah sampeyan belajar untuk memahami bahwa kebiasaan suami sampeyan itu termasuk bagian dari pengeluaran rekreatif. Sama seperti pengeluaran buat bayar internet, langganan netflix, nonton bioskop, dsb. 

Kita memang selama ini menganggap bahwa pengeluaran yang tidak dilihat sebagai sesuatu yang rekreatif dianggap sebagai pengeluaran yang mahal. Misal beli buku dianggap boros, sedangkan tapi beli tiket konser dianggap wajar. Padahal, keduanya sama-sama memberikan sesuatu yang, mungkin setara (karena memang tak bisa diukur). Buku memberikan pengetahuan, konser memberikan pengalaman. Dan keduanya tidak bisa dihitung secara nominal.

Sampeyan harus bisa memahami sembari membikin batas. Selama kebiasaan suami sampeyan membeli mainan itu tidak membuat uang sekolah anak jadi terlantar, tidak membuat uang tagihan listrik jadi telat, tidak membuat uang belanjaan jadi macet, tidak membuat stabilitas keuangan keluarga terganggu secara signifikan, juga tidak membuat suami sampeyan sampai harus menjual salah satu ginjalnya, maka biarkan saja.

Ingat, tidak semuanya harus diukur dengan cara pandang penghematan duit. Kalaupun harus dipaksa begitu, beli mobil-mobilan itu kan ya nggak rugi-rugi amat. Coba kalau yang dibeli sama suami sampeyan itu mobil betulan, bakal banyak biayanya. Dari beli bensin, service, cuci mobil, dll. Kalau beli mobil-mobilan kan nggak perlu beli bensin, nggak perlu keluar biaya cuci mobil, dan nggak perlu diservice juga, sebab sampai kiamat kubra nggak bakal itu mobil-mobilan turun mesin.

Begitu, Bu Yuni. Ini bukannya bentuk solidaritas sesama lelaki lho ya. Tapi ini memang penting untuk saya utarakan.