• 161
    Shares

Curhat

Dear Mojok.

Langsung saja, ya. Perkenalkan, nama saya Bejo, tentu saja nama samaran, saya tak ingin pakai nama asli, sebab curhat yang akan saya sampaikan ini menyangkut kemaslahatan orang lain.

Jadi begini, Gus. Saya punya kawan dekat, namanya Budi (ini juga nama samaran), dia kawan saya sejak SMA. Sekarang kami berdua kuliah di kampus yang sama, cuma beda jurusan.

Nah, Budi ini punya seorang pacar, namanya Ani (sekali lagi, nama ini juga nama samaran). Dia seorang mahasiswa yang kuliah di kampus tak jauh dari kampus kami. Budi pacaran dengan Ani sudah dua tahun. Ani ini dulunya sering nongkrong di salah satu kedai kopi langganan saya dan Budi. Karena sering bertemu, Budi pun tertarik, dan akhirnya mendekati Ani, hingga akhirnya jadianlah mereka.

Nah, di titik berikut inilah masalahnya.

Beberapa waktu terakhir, entah kenapa, saya mulai merasa suka sama Ani. Saya paham betul, ini hal yang kurang ajar. Namun, saya tak dapat mengelak, bahwa saya ternyata memang mulai suka sama Ani.

Polemik ini Bermula saat Budi menyuruh saya untuk mengantarkan Ani ke Bandara. Saat itu, Budi mendadak ada urusan. Entah urusan apa.

Sebagai teman yang baik, saya mengiyakannya. Nah, selama perjalanan menuju bandara itulah, saya dan Ani ngobrol banyak. Dan entah kenapa, saya merasa kalau Ani itu begitu menyenangkan. Saya merasa klop saat ngobrol dengannya.

Setelah itu, Saya mulai berani mengajak Ani untuk wasapan. Hal yang sebelumnya tak pernah saya lakukan karena memang tidak pernah kepikiran. Ani menanggapi setiap wasap saya dengan jawaban yang semakin membuat saya yakin bahwa dia memang perempuan yang menyenangkan.

Nah, Gus, kira-kira apa yang harus saya lakukan. Sungguh, saya bingung sekali dengan perkara yang satu ini. Apakah saya harus memperjuangkan cinta saya pada Ani dengan berusaha mendekatinya dan merebutnya dari Budi?

~Bejo

 

Jawab

Dear Bejo.

Pertama, saya menyarankan Anda untuk banyak membaca buku fiksi. Ini semata demi meningkatkan kreativitas Anda dalam mencari nama samaran untuk seseorang atau diri sendiri, sehingga kelak kalau mau ngirim curhat lagi, nama samarannya bisa lebih variatif, bukan hanya Bejo, Budi, dan Ani yang sangat “buku paket” dan sangat “Depdikbud” itu.

Oke, langsung saja.

Begini, Bejo. Perkara mencintai (atau masih sekadar menyukai?) seseorang yang sudah milik orang lain, apalagi kawan sendiri, memang menjadi perkara yang pelik.

Orang berhak untuk mencintai siapa saja. Namun, hak itu tentu saja tak berbanding lurus dengan pencapaiannya. Ini sama seperti semua orang boleh bermimpi menjadi presiden, namun yang boleh mewujudkan impian tersebut tetaplah hanya satu orang, itu pun hanya lima tahun, dan itu pun kalau tidak dilengserkan.

Cinta dan logika itu dua hal yang kerap tak bisa beriringan. Anda boleh saja mencintai Ani. Tapi ingat, ada orang lain yang sudah mencintainya, dan ia sudah mendapatkan hak atas cintanya, yaitu Budi. 

Sebagai orang yang waras, tentu saja saya menyarankan Anda untuk tak mendekati Ani, sebab ia sudah punya garis batasnya sendiri. Ia sudah punya Budi. Kalau pun Anda nekat, itu tentu hal yang bodoh. Cinta Ani belum tentu didapat, tapi murka Budi sudah pasti. Dan itu tentu sangat tidak etis.

Di Sisilia, Italia, tempat yang terkenal sebagai daerah mafia, ada sepuluh kode etik legendaris yang dikenal sebagai ten commandements. Kode etik tersebut menjadi semacam aturan tak tertulis yang harus ditaati oleh para mafioso (sebutan anggota mafia Italia). Dan salah satu dari sepuluh itu adalah tak boleh menyentuh perempuan kepunyaan pria terhormat lain, juga tak boleh mencuri darinya.

Lihat, bahkan dalam lingkup permafiaan yang culas, mencuri perempuan dari seseorang adalah hal yang begitu memalukan. Apalagi jika mencuri perempuan dari kawan sendiri. Masak sampeyan kalah sama mafia.

Anda bisa mulai mencoba untuk mencari perempuan lain yang lebih berhak untuk dicintai.

Ingat, mencintai pacar teman dan berusaha merebutnya adalah hal yang pengecut, sebab itu adalah kompetisi yang lawannya hanya satu, yakni teman Anda sendiri. Sedangkan mencintai seseorang yang masih bebas adalah hal yang pemberani, sebab lawan yang Anda hadapi bukan hanya satu, tapi banyak.

Saya yakin, Anda adalah seorang pemberani.

Kalau Anda masih tetap ngotot ingin merebut Ani dari Budi, saran saya yang paling pamungkas adalah, bayangkan apa saja kebaikan-kebaikan yang pernah Budi lakukan pada Anda, dan rasakan, betapa jahatnya Anda jika masih tetap ingin merebut miliknya.

~Agus Mulyadi