Rasanya, kita nggak pernah sebahagia ini ketika mendengar kabar ada orang “hijrah ke Islam”.

Yang pertama tentu “hijrahnya” Gajah Mada. 14 Juni kemarin, Portal-Islam mengabarkan itu dan segera disambut dengan suka cita oleh netizen. Bahkan Mas Cepi Sabre segera membuat analisis tentang penyebab Perang Bubat. Sungguh Ramadan yang tidak hanya islami, tetapi juga sadar historis.

Yang kedua, atau sebenarnya terjadi duluan ketimbang viralnya hijrah Gaj Ahmada, ialah berita pembagian zakat fitrah di Lumajang oleh Komunitas Akatsuki Afkar. Kabar ini bikin senang selain karena ini kegiatan yang sangat bagus, juga karena faktor Akatsukinya.

Buat yang mengikuti serial Naruto: Shippuden tentu tahu, Akatsuki adalah organisasi kriminal yang jadi antagonis utama di serial itu. Alhamdulillah, kini Akatsuki sudah kembali ke jalan yang lurus dan jadi islami.

Status netizen berikut merespons kabar “hijrahnya” Akatsuki ke jalan Islam itu. Dengan memelesetkan tulisan berjudul “Warisan” milik Afi Nihaya Faradisa, jujur saja, Mojok ngakak sejadi-jadinya ketika membacanya. Disclaimer: ini cuma dipahami sama yang ngikutin anime lo ya. Wqwq.

Haris Firmansyah Hirawling: WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia. Eh takdir ding. Seandainya saja saya lahir di Konohagakure dari klan Uchiha pada zaman shinobi, apakah ada jaminan bahwa saya memeluk tekad api sebagai kepercayaan saya? Tidak. Bisa saja saya jadi ninja pelarian, berguru kepada tuan Orochimaru dan bergabung dengan Akatsuki.

Saya tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim Kushina, lalu dimasukkan cakra kyubi oleh Hokage Keempat demi menyelamatkan desa dari kehancuran.

Setelah beberapa tahun kita lahir, pengalaman hidup menentukan makanan kesukaan, anime favorit, artis idola dan klub bola jagoan kita. Setelah itu, kita membela ampun-ampunan segala hal yang menurut kita bagus. Tidak peduli selera orang lain.

Sejak masih anak-anak, saya didoktrin oleh Tsubasa Ozora bahwa bola adalah teman. Saya mengasihani Carlos Santana yang tidak menikmati permainan, sebab dia dijadikan robot sepakbola.

Ternyata,

Teman saya yang hobi nonton Digimon juga punya anggapan yang sama terhadap anime favoritnya. Mereka mengasihani Kaisar Digimon yang menjadikan para monster sebagai budak-budaknya.

Maka,

Bayangkan jika kita menjalani hidup seperti Carlos Santana yang walaupun mendapatkan kemenangan tapi tidak bahagia sedikit pun? Atau memperbudak makhluk-makhluk lucu yang sepatutnya dijadikan partner bertualang di dunia Digimon?

Itachi Uchiha mengatakan, “Semua orang hidup terikat dan bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri, itu disebut kenyataan. Tetapi pengetahuan atau persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi, semua orang hidup dalam asumsi.”

Salah satu karakteristik otaku memang saling mengklaim anime favoritnya yang paling bagus. Mereka juga tidak butuh cerita yang real, namanya saja “imajinasi”.

Manusia memang berhak menyampaikan pendapatnya kepada lawan, tapi jangan sesekali mencoba jadi seperti Naruto ketika melawan Pain. Tidak semua bisa menguasai Ngoceh No Jutsu dan bisa bertahan hidup melawan musuh yang kuat dengan hanya mengandalkan jurus fana itu.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing bajak laut ingin dapat warisan Gol D Roger, “Akulah yang akan menemukan One Piece dan menjadi Raja Bajak Laut!”.

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Weekly Shonen Jump, siapa lagi yang menerbitkan Dragon Ball, One Piece, Naruto, Boku no Hero Academia, Assassination Classroom, bahkan Gintama, dan menggaji semua mangaka yang serialisasi di sana sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Shueisha Inc. Jika mereka mau, mereka bisa saja menghentikan serialisasi semua manga.

Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat yang menjadikan Naruto Uzumaki sebagai panutan bersama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal sama-sama tahu jika idolanya, Naruto, mencintai kedamaian.

Sebab, jangan heran ketika sentimen kedamaian desa Konoha vs. kepentingan klan Uchiha masih berkuasa, maka jalan ninja seorang shinobi mendadak tersesat entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing otaku menuntut agar manga kesukaannya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran akal sehat umat manusia.

Karena itulah yang digunakan Gol D. Roger dalam membangkitkan semangat para bajak laut pemula bukanlah novel Icha-Icha Paradise karangan Jiraiya, melainkan warisan cita-cita, takdir waktu dan impian manusia.

Dalam perspektif bajak laut, setiap kelompok berhak mengibarkan bendera bajak laut dan berlayar dengan kapal masing-masing, tapi mereka tak berhak memaksakan krunya untuk ditempatkan sebagai Shichibukai yang direkrut Angkatan Laut. Hanya karena merasa paling hebat, kapten bajak laut tidak berhak mengintervensi kebijakan Pemerintah Dunia yang terdiri dari 5 tetua Gorosei.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa serunya cerita Naruto yang desanya nyaris tercerai-berai bukan karena meributkan warisan di media sosial, tapi karena orang-orangnya Madara Uchiha yang dikendalikan oleh Rinnegan milik Nagato.

Ketika God Enel sudah pergi ke bulan dan menjadi bajak laut di sana, kita masih sibuk meributkan soal filler Naruto yang kebanyakan flashback.

Kita tidak harus suka tontonan yang sama, tapi marilah kita sama-sama nonton. Jangan nonton sendirian. Nanti cuma bisa meluk tas di bioskop.

Catatan redaksi: baca pelesetan tulisan Afi Nihaya Faradisa, “Warisan”, di sini dan di sini.

No more articles