[MOJOK.CO] “Tulisan ini dipersembahkan untuk kamu-kamu yang penasaran, kenapa sih di beberapa agama tertentu umatnya selalu tampil modis ketika pergi beribadah?”

Kenecisan dalam berpakaian tidak hanya berlaku saat ketemu sama gebetan saja, dalam beberapa agama di Indonesia, tampil necis adalah satu kebiasaan ketika menghadap Tuhan. Tulisan ini dipersembahkan untuk kamu-kamu yang penasaran, kenapa sih di beberapa agama tertentu umatnya selalu tampil modis ketika pergi beribadah?

Mau pakai kemeja atau hoodie? Mau pakai sneaker atau sepatu AP Boots? Mau pakai sandal Fipper atau Swallow? Yang jelas pasti dipikirin, agar pantas menyembah apa yang mereka sembah dan mereka percayai. Yang disembah sama yang dipercayai aja dipikirin, apalagi masa depanmu, Dik.

Monica Kasihana Dewi termasuk yang peduli dengan penampilan ketika ke rumah ibadah. Untuk gaya berbusana, mahasiswa semester 7 sebuah perguruan tinggi swasta di Yogya ini, Kasih, begitu panggilannya, tergolong kaum SWAG alias single woles anti-galau. Ups, SWAG aslinya akronim dari style with a little bit gangsta alias bergaya, keren, dan asyik. Gaya itu erat kaitan dengan para penyanyi hiphop. Yoyoyoi!

“Aku lebih suka terlihat SWAG, keren, kasual gitulah. Kalo urusan warna aku nggak masalah sih, cuma untuk motif, aku nggak suka yang terlihat glamour, terlihat bling-bling gitu,” kata Kasih, “cuma bukan berarti aku nggak akan memakai barang atau pakaian yang seperti dress, aku tetap memakainya untuk beberapa acara.”

Kasih sudah menggemari dan memakai gaya busana SWAG sejak SMP. Atas nama kenyamanan dan menjadi diri sendiri, Kasih memilih gaya SWAG. Referensinya datang dari penyanyi yang tenar lewat album Bintang Kehidupan, the one and only Nike Ardilla.

“Kok kamu bisa kenal Nike Ardilla?” tanya saya.

“Dari majalahnya mamaku. Kebetulan juga setiap Sabtu malam bapakku pasti nyetel lagu lawasan. Nah, di situ juga aku mulai minat mengenal sosoknya,” kata Kasih.

Baca juga:  Persebaya vs Arema, Mungkinkah Bibit Perdamaian Tersemai di Jawa Timur?

Di era ‘90-an, Nike Ardilla adalah ikon berbusana. T-shirt yang dipadupadankan dengan celana jeans, sepatu kets, jaket, aksesoris sederhana, dan tanpa make-up menjadi ciri khasnya. Kesan tomboi yang fenimin menjadi kekuatan gaya berbusana Almarhum Nike.

“Biasanya kamu ke tempat ibadah mengenakan apa sih, Sih?”

“Kadang dress batik. Tapi, lebih sering kemeja dan jeans. Jadi, aku punya prinsip, ke tempat ibadah jangan kayak pergi dolan (main) pakaiannya.”

Ia belajar untuk berpakaian bersih, rapi, dan sopan dari orang tuanya. Kasih tahu, ada juga orang yang menganggap aneh kebiasaan berpakaian necis ke rumah ibadah. Menurutnya, karena Tuhan suka dengan keindahan, maka berbusana terbaik adalah upaya menyenangkan hati Tuhan.

“Kecuali,” ia menambahkan, “kalau demi hal tersebut terjadi, mereka harus boros dan lain-lain. Itu beda lagi.”

Sama-sama gemar tampil trendi, Yo Handry punya pilihan lain. Yo juga masih mahasiswa, baru semester 1. Kegemarannya berbusana street style, nama gaya yang tidak boleh diterjemahkan semena-mena menjadi “gaya anak jalanan”.

Street style biasanya cenderung ada hitamnya, dan hitam adalah warna netral, jadi mudah dipaduin dengan baju warna lain. Street style tuh cenderung terlihat mengikuti fesyen terkini. Gaya berpakaian street style juga simpel, tapi tetap stylish.” Panjang lebar Yo menjelaskan.

Kesukaan Yo ini muncul sejak SMA. Instagram menjadi wadah PDKT Yo dengan gaya busana itu. “Street style aku tahunya pas zaman medsos lagi meledak-ledak. Dan kebetulan aku lihatnya di Instagram.”.

Tentang sosok yang menginspirasi gaya berbusananya, Yo terinspirasi oleh Justin Livingston. Ia adalah sosok asal Amerika yang mengasuh blog Scout Sixteen. Blog itu memberikan inovasi-inovasi tentang gaya hidup populer. Yang bikin Yo suka dengan blog ini, Mas Livingstone ini tidak terpaku pada satu model saja, kadang ia menciptakan model berpakaiannya sendiri.

Baca juga:  Memperbanyak Ahli Ibadah, Memperbanyak Wahana Bermain untuk Setan

Ketika ke rumah ibadah, Yo biasa menggunakan kaus kasual atau hoodie Woodpecker serta sepatu sneakers seri Yezzy merek Adidas. Pokoknya, sopan nggak harus kemeja. “Asalkan jangan yang robek-robek karena sekarang lagi tren celana robek yang diameternya lebar banget.”

“Kenapa sih kok orang orang harus berpenampilan necis waktu ibadah?”

“Kan kita ke rumah Tuhan. Jadinya ya harus mempersembahkan yang terbaik dari kita buat Tuhan. Salah satunya berpakaian rapi.”

“Bukan karena nyari jodoh nih?”

“Bukan dong. Tapi, mungkin ada beberapa yang kayak gitu.”

“Kamu tergolong yang beberapa itu? Hahaha.”

“Untuk sekarang sih belum masuk golongan itu.”

Vincen, yang juga mahasiswa—kini ia semester 4, juga suka gaya kasual. (Semua mahasiswa kok seleranya sama?) Vincen mengenal gaya berbusana kasual sejak duduk di bangku SMA karena pergaulan dan Instagram. Hmmm, untuk up to date dan OOTD, Instagram adalah kunci~

OOTD Vincen ke tempat ibadah terdiri dari kemeja, jeans, dan sneaker.

Pemahaman Vincen tentang berpakaian rapi ke tempat ibadah didapatkannya sejak kecil. Tempat berkenalannya ialah Sekolah Minggu. Di tempat itu, Vincen diajarkan kalau mau bertemu Tuhan, ya harus rapi.

“Aku mau bertemu Tuhan, ya (berpakaian) rapi. Rapi kan berkerah, celana panjang itu sudah menunjukkan. Okelah. Standar rapi: celana panjang, berkerah, terus sepatu. Ya (tahu) dari guru-guru Sekolah Minggu, kalau ke tempat ibadah harus berpakaian rapi. Saudara, orang tua, keluarga (juga) begitu. Teman-teman ke tempat beribadah selalu pakaian rapi. Kalau nggak rapi kan dinilai nggak niat ke tempat ibadah,” jelas Vincen.

Siiip, Bhaaang~

Komentar
Add Friend
No more articles