Salah satu daya tarik kehadiran perangkat pembaca buku elektronik (eBook) adalah sifatnya yang mudah dibawa kemana-mana. Mau sambil nunggu antrean, duduk di dalam pesawat, atau sambil buang air besar, baca buku jadi lebih mudah dan (((paperless))).

Kamu tidak perlu membawa buku fisik yang mudah basah terkena air atau dimakan rayap jika disimpan terlalu lama. Sudah begitu, koleksi buku fisik yang terlalu banyak juga akan membuat rak bukumu jadi kelihatan penuh.

Perangkat semacam Kindle Fire adalah satu dari sekian jenis sabak elektronik—meminjam istilah dari halaman Wikipedia untuk menyebut tablet, yang dibuat untuk memanjakan para kutu buku. Entah, sebutan kutu buku itu apakah masih layak diberikan kepada mereka para pembaca eBook atau tidak, biar jamaah Mojokiyah saja yang menentukan.

Sekira awal tahun lalu saya diberi kesempatan menjajal perangkat satu ini. Seorang teman berbaik hati menghadiahi saya dengan Kindle Fire HD 8” yang ia beli melalui seorang kawannya seharga promo $69.9. Kalau dirupiahkan harganya tak sampai sejuta. Saat tulisan ini ditulis, beberapa toko daring di Indonesia menjual perangkat ini pada kisaran 2,5 juta. Harganya jadi membengkak tentu karena sudah dihitung ongkos kirim dari luar negeri dan pajak.

Konon perangkat ini dirilis pada 21 September 2016. Fire HD 8” adalah generasi keenam sejak Kindle generasi pertama diluncurkan pada tahun 2012. Perangkat yang diproduksi oleh Amazon, perusahaan raksasa yang didirikan oleh Jeff Bezos, ini tentu tak mau kalah dengan pabrikan yang mengusung produk sejenis, semisal iPad dan berbagai varian Android Tablet. Maklumlah, sebagai salah satu perusahaan e-commerce terbesar di dunia yang awalnya berjualan buku, teknologi yang mereka usung lebih dulu tak jauh-jauh dari dunia perbukuan.

Tidak ada yang spesial saat bungkus tersebut saya buka pertama kali. Sederhana sekali, bro. Cuma kertas kardus warna oranye semacam bungkus kebab. Ini kalau bungkusnya disandingkan dengan bungkus iPad atau Samsung Galaxy Tab pasti kalah telak. Bungkus Kindle Fire HD 8” sama sekali tidak menunjukkan kesan eksklusif.

Bungkus Kindle Fire HD 8″ dan isinya

Setelah coba dipegang, beratnya sekitar 350 gram dengan dimensi 13 x 21,5 cm. Di dalamnya sudah terinstal sistem operasi khusus untuk Fire HD 8”, yaitu Fire OS 5. Soal spek, tablet ini punya kapasitas penyimpanan maksimal 16 GB (ada juga yang versi 32 GB), RAM 1.5 GB, Quad-core 64-bit dari pabrikan MediaTek, serta mengusung prosesor 4x ARM Cortex-A53 @ 1.3 GHz. Dengan kemampuan segitu, tablet ini sudah sangat bisa diandalkan untuk nonton film!

Setelah diraba-raba, perangkat ini ternyata tak dilengkapi dengan SIM Card. Hanya ada port audio 3.5, mini USB, dan SD Card. Jika mau terhubung ke koneksi internet, perangkat harus dihubungkan ke koneksi WiFi atau portable hotspot terdekat. Untuk bertukar file, tablet ini sudah dilengkapi dengan Bluetooth 4.1.

Beberapa aplikasi bawaan yang bisa saya coba saat pertama kali menggunakan Fire HD 8” ini misalnya Appstore, Amazon Video, Kindle Books, Music, Silk (browser) dan Audible (audiobooks). Memang aplikasi yang ditawarkan Appstore tidak selengkap Play Store jika kamu pengguna Android atau App Store jika kamu pengguna iPad. Aplikasi menarik yang boleh dicoba adalah Amazon Alexa, sejenis aplikasi asisten pribadi dalam bentuk suara (mirip Siri pada iPhone atau Allo pada Android).

Aplikasi pembaca buku Kindle Books pada perangkat ini saya akui bagus. Tidak mudah membuat mata lelah saat membaca dan tampilannya bisa diatur sedemikian rupa sesuai keinginan. Misal untuk membesarkan huruf atau mengatur pendar cahaya dalam lingkungan yang terang maupun gelap.

Menariknya, Kindle Books juga menyediakan fitur untuk membaca buku secara otomatis. Jadi, jika kamu sedang malas membaca, aplikasi akan dengan senang hati mendongengkan isi eBook buat kamu. Kecepatan bacanya bisa diatur: cepat sekali, cepat, dan lambat. Oya, suaranya pun tidak kaku, mirip-miriplah seperti suara mbak Samantha di film Her.

Koleksi Kindle Books Store sungguh sebenar-benarnya jendela dunia. Bagaimana tidak, hampir semua buku berbahasa Inggris di seluruh dunia bisa ditemukan di sini. Sayangnya semua eBook tersebut harus dibeli dengan kartu kredit. Tidak yang lain, misal lewat Indomaret atau pakai saldo GoPay.

Saya coba iseng mencari buku dengan kata kunci “Eka Kurniawan”, yang muncul ternyata buku-bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Jadi, jangan harap ada banyak buku berbahasa Indonesia di sini ya, apalagi mencari buku RPUL atau buku karya Marthen Kanginan.

Kelemahan lain perangkat ini adalah kamera yang dibilang sudah katrok untuk zaman sekarang. Ia masih menggunakan kamera depan 0.3 MP dan kamera belakang 2 MP, yang menurut saya sungguh mubazir. Selain hasilnya kurang bagus, juga tidak ada aplikasi edit foto yang memuaskan pada perangkat ini. Mending kalau bisa fitur kamera ini dihilangkan dari perangkat atau cukup satu kamera belakang yang di-upgrade ke MP yang lebih tinggi.

Soal daya tahan baterai jangan khawatir. Di buku manual, tablet ini bisa tahan sampai 12 jam jika dipakai terus menerus. Cukup awet. Hanya saat saya coba untuk memutar satu judul film selama dua jam nonstop dari keadaan penuh, baterai langsung tersisa separuhnya. Fitur layar HD ditambah kualitas audio yang cukup mumpuni (dilengkapi stereo speaker & Dolby audio) rupanya menjadi sebab baterai Fire HD 8” cepat ngedrop.

Bagaimana dengan aplikasi musiknya? Secara kualitas audio lumayan, tapi sayangnya aplikasi musiknya kurang nyaman. Untuk memutar musik, saya harus repot mengkopi file MP3 ke dalam SD Card. Aplikasi streaming/music player populer semacam Spotify dan iTunes tidak tersedia dalam versi Kindle.

Dari kiri ke kanan: tampilan Home, tampilan saat membuka eBook, dan tampilan saat memainkan film.

Setelah beberapa minggu menggunakan tablet ini, saya merasa cepat bosan. Karena fitur-fitur di Kindle Fire ini memang terbatas dan sangat segmented buat orang yang hobi baca eBook. Secara keseluruhan saya lebih nyaman menggunakan tablet ini untuk membaca eBook dan nonton film secara portabel. Bukan untuk main game, buka Youtube (harus buka lewat browser), memutar musik, bahkan hanya untuk sekadar browsing internet.

Jadi buat kamu yang memang menginginkan beli gajet multifungsi dan bisa untuk selfie, Kindle Fire HD 8” bukan pilihan yang pas. Tapi buat kamu yang memang maniak baca buku-buku berbahasa Inggris dan punya akses kartu kredit untuk membeli eBook-eBook ciamik, Kindle Fire HD 8” sejauh ini bukan pilihan yang buruk.

Komentar
Add Friend
No more articles