• 2.8K
    Shares

MOJOK.CO – Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Amerika perlu berterima kasih kepada Sandiaga Uno. Berkat dirinya, kami semua akhirnya mendadak bisa disebut santri.

Sebagai mahasiswa yang sedang studi di Amerika Serikat (Amrik) dan ditargetkan akan menjadi alumni tahun depan, saya sudah pasrah jika nantinya akan dituduh macam-macam oleh akhi-akhi dan ukhti-ukhti yang cenderung anti dengan negara induk semangnya kapitalis ini. Cukup menyebut kata lulusan dari Amrik saja, maka di jidat saya seolah-olah sudah muncul aura-aura antek kafir, kapitalis, sekuler, LGBT, liberal, negeri laknatullah calon penghuni kerak neraka, dan sebagainya.

Akan tetapi, semua cap di jidat saya dan teman-teman saya dari Indonesia yang kuliah di Amrik ini berubah sejak Sandiaga Uno yang per 10 Agustus 2018 resmi jadi calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Prabowo Subianto. Beberapa saat setelah Sandiaga jadi cawapres, tiba-tiba ia disebut-sebut sebagai seorang santri, lebih tepatnya santri post-Islamisme.

Alhamdulillah.

“Saya bisa katakan saudara Sandiaga Uno sebagai sosok santri di era post-islamisme,” kata Sohibul Iman, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Meski tampaknya ada kontradiksi dari gabungan kedua istilah ini, yang mana setahu saya post-islamisme itu istilah yang mengacu pada gerakan Islam politik yang terjadi di Timur Tengah—terutama di Mesir dan Iran—sementara istilah santri merujuk pada mereka yang menuntut dan menyelesaikan pendidikan di pesantren, sementara pesantren sendiri adalah satu ciri corak pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Jadi kalau boleh nanya ini ketemunya di mana ya? Walah, itu mah nggak penting, yang penting takbir.

Sandiaga yang disebut Presiden PKS sebagai “santri di era post-islamisme” ini diketahui sudah pernah menghabiskan setidaknya 6 tahun di Amrik. Lulus S1 dari Wichita State University tahun 1990, lalu melanjutkan program masternya di George Washington University (GWU) tahun 1992. GWU sendiri berada di Ibu Kota Amrik, Washington DC. Jadi kalau Amrik adalah negara kapitalis laknatullah, maka Sandiaga pernah hidup di jantungnya.

Diakuinya status santri Sandiaga Uno jelas membuatnya jadi pahlawan yang akan menyelamatkan mahasiswa Indonesia yang studi ke Amrik. Setelah di jidat orang-orang kayak saya ketempelan stempel antek liberal, sekuler, kapitalis, sampai bagian dari pendukung LGBT, Sandiaga mampu mengubah itu semua hanya dengan 500 Miliar mundur dari Wakil Gubernur DKI Jakarta dan mau maju mendampingi Prabowo untuk Pilpres tahun depan.

Baca juga:  Demi Membantu Program Sandiaga Uno, Seorang Lelaki Terbitkan “Tempe” Setipis Kartu ATM

Tentu saja, orang-orang kayak saya ini jadi sosok yang berbahagia dengan status baru Sandiaga ini. Sandiaga telah terbukti secara ampuh mampu menghapus semua stigma buruk yang akan saya bawa ketika saya nanti pulang ke Indonesia.

Bahkan bukan cuma menghapus, dengan the power of Money Sandi pula semua predikat buruk itu bisa berbalik jadi lebih agamis dan terasa begitu dekat dengan Indonesia. Sebuah istilah yang ketika menyebutnya saja, saya sendiri sering merasa malu karena sadar tidak punya kapasitas apa-apa soal agama.

Maklum saja, sebab ketika mendengar istilah santri maka yang muncul dalam bayangan saya adalah anak-anak rajin ngaji yang menjalani pendidikan dengan ketat dan disiplin. Berguru pada kiai secara langsung dengan sanad keilmuan yang jelas dan susah payah bertahun-tahun belajar membaca kitab kuning.

Sepengatuhan saya, santri adalah identitas yang menandai diri seorang muslim. Istilah ini begitu identik untuk menegaskan ke-Islam-an seseorang, di mana sering pula digunakan untuk membedakan dengan kaum abangan dan priyayi.

Akan tetapi dengan pengaruh Sandiaga Uno kali ini, untuk bisa disebut sebagai santri ternyata tak perlu lagi harus repot-repot tinggal di pondok. Cukup tinggal di Pondok Indah, Pondok Permai, atau Pondok Hijau Lestari, asalkan kaya raya sampai mampu kasih dana kampanye, semua orang ternyata bisa juga disebut santri.

Sebagai mahasiswa jurusan di bidang ekonomi, tentu sedikit banyaknya Sandiaga belajar berbagai sistem ekonomi, termasuk sistem ekonomi kapitalis. Iya dong, wong dia belajar di negara induk semangnya kapitalis. Ya mana mungkin Sandiaga belajar ekonomi syariah? Kalau mau belajar ekonomi syariah ya di sana, di negara-negara Arab dong.

Walau begitu, sebagai santri lulusan Amrik, Sandiaga Uno adalah pengusaha muslim yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah. Rajin sedekah dan rajin menyerukan zakat sebagai sunah dan kewajiban sebagai seorang muslim. Warbiyasa.

Bahkan begitu lekatnya istilah santri ini, sekalipun Sandiaga bertahun-tahun tinggal di Amrik namun ternyata ia menolak bersalamaan dengan yang bukan muhrim. Hal ini dibuktikan dengan sebuah video yang beredar di media sosial, di mana Sandiaga menolak berjabat tangan dengan seorang presenter cewek. Si presenter kemudian tampak salah tingkah dan malu sendiri. Hm, mungkin si presenter ini tidak tahu kalau di hadapannya itu adalah seorang santri. Aduh, Mbak, makanya baca riwayat hidupnya yang mau diwawancara dong, gimana sih?

Baca juga:  Tiga Rahasia GNPF-U Menangkan Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019

Hal ini menunjukkan bahwa Sandiaga adalah contoh bagi teman-teman mahasiswa yang kuliah di Amrik. Jadi, meski tinggal di Amrik dengan segala kebebasannya, di mana saling peluk dan berciuman adalah hal umrah dan biasa saja, Sandiga ternyata tetap mampu menjaga diri dari perbuatan dosa, bahkan sampai bersentuhan dengan yang bukan muhrim saja enggan.

Melihat bagaimana alimnya Sandiaga meski kuliah di Amrik, saya jadi merasa perlu berterima kasih kepada beliau. Sebab saya jadi tenang kalau balik lagi ke Indonesia lagi nanti. Tidak perlu lagi khawatir bakal dicap kafir atau liberal.

Sebaliknya, Sandiaga bahkan bisa jadi role model santri modern nan milenial. Ditambah, golongan yang suka anti dengan apapun dari Amrik bakalan berbalik mau turun ke jalan berteriak-teriak membela dan mengampanyekan orang-orang kayak saya sebagai seorang santri post-islamisme. Jadi jelas, tidak ada yang lebih mengharukan ketika yang selama ini menuduh malah jadi berbalik membela setengah mati.

Oleh sebab itu, berarti boleh dong kalau saya juga disebut santri meski saya cuma sempat mondok di Amrik? Ya walaupun sampai dunia kiamat sepertinya saya juga tidak bakalan bisa kasih duit 500 Miliar ke orang lain sih.

Yang terakhir—ini agak spesial—selain Sandiga telah membanggakan saya sebab kelak sama-sama akan menjadi alumni Amrik yang otomatis religius, saya juga bangga sebab Sandiaga ternyata punya darah keturunan Bugis sebagaimana beredar kencang di beranda sosial media beberapa teman saya yang merupakan sesama Suku Bugis.

Barangkali, tak lama juga Sandiaga akan punya gelar Puang, Karaeng, atau Andi. Gelar-gelar keturunan bangsawan dalam masyarakat Bugis yang kini pun dapat pula dimiliki dengan mudah meski bukan keturunan bangsawan. Informasi ini saya dapat setelah Sandiaga secara resmi mendaftar di KPU sebagai cawapres. Meski selama ini tidak pernah disinggung sebelumnya, tapi bagi saya ini jelas sebuah kebanggaan.

Sudah sama-sama Bugis, sama-sama kuliah di Amrik, sama-sama bisa disebut sebagai santri, tapi kalau soal pilihan politik tidak perlu sama-sama juga kan, Bang Sandi? Eh.